
Saya berpikir dan bertanya soal tujuan pendidikan. Pendidikan benarlah tak memiliki tujuan, yang bertujuan adalah mereka yang belajar, orangtua yang mendorong anak belajar, serta pengguna para lulusan. Teknologi pembelajaran bukan menjembatani pendidikan itu, namun teknologi pembelajaran menjembatani siswa untuk belajar. Belajar apa saja yang disukainya, apa yang dibutuhkannya, bukan apa yang diinginkan oleh orangtuanya.
Jika orang tidak terkungkung pada kepentingan gelar dan apa-apa di dunia ini yang membutuhkan keahlian tersertifikat (ahli harus dibuktikan dengan sertifikat), maka mungkin tak perlu yang namanya sekolah, tak perlu ada lembaga pendidikan tinggi pencetak guru, dan sebagainya. Pendidikan akan mengalir begitu adanya, alami.
Hal itu mungkin menjadi ruh kebangkitan pendidikan alternatif. Kelahiran pendidikan alternatif merupakan jawaban atas ketidakpercayaan kepada pendidikan formal yang diselenggarakan pemerintah, yang katanya terkotak-kotakkan pada penyeragaman.
Pendidikan alternatif menjadi bukti bahwa kepentingan pendidikan itu bukan pada sekolah atau penyelenggaranya, tetapi lebih pada peserta didik sendiri. Ali Maksum seperti dikutip Amin Yusuf (2007) mengkategorisasi pendidikan alternatif itu memiliki tiga kesamaan, yaitu: (1) pendekatannya lebih bersifat individual, (2) memberikan perhatian yang lebih besar kepada peserta didik, orangtua, keluarga dan pendidik, dan (3) dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman.
Sedangkan ragam pendidikan alternatif dapat dikelompokkan ke dalam empat bentuk, yaitu: (1) Sekolah publik pilihan; (2) Sekolah atau lembaga pendidikan publik untuk siswa bermasalah; (3) Sekolah atau lembaga pendidikan swasta atau independent; dan (4) Pendidikan di rumah (homeschooling).
Pendidikan alternatif pertama-tama ditujukan kepada peserta didik, yaitu agar mereka data dimungkinkan mengikuti pendidikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Melalui model ini, anak mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya seoptimal mungkin. Ketika penyelenggara pendidikan alternatif terjebak dengan cara-cara penyelenggaraan pendidikan pada umumnya (sekolah pemerintah), maka masyarakat atau orangtua akan tidak percaya terhadap akuntabilitasnya. Lembaga pendidikan yang mampu membuktikan kepada masyarakat bahwa pendidikan yang diberikan kepada peserta didik adalah pihak yag dilayani secara prima, lembaga ini akan eksis dan tidak kesulitan memperoleh anak didik.
Ada beberapa bentuk pendidikan alternatif yang kita kenal: (1) Pesantren, (2) Taman siswa, (3) Sekolah Kayutanam dengan semobyan “carilah sendiri, dan kerjakanlah sendiri”, (4) Sekolah melalui radio oleh Jawatan Pendidikan Masyarakat, (5) Sekolah laboratorium IKIP Malang atau sekolah laboratorium ibu pakasi (SLIP), (6) PAMONG (pendidikan anak oleh masyarakat, orangtua, dan guru), (7) Kejar paket (A, B, C, dan keaksaraan fungsional), (8) SMP terbuka, (9) Universitas Tikyan (“sitik-sitik lumayan”).
Bagaimanapun keberadaan pendidikan alternatif benar-benar dapat menjadi pilihan lain selain pendidikn-pendidikan yang dilembagakan oleh pemerintah. Namun, pemerintah tak sepenuh hati memberikan hak desentralisasi pendidikan. Penanganan pendidikan alternatif masih sarat dengan etatisme pendidikan, dikendalikan oleh elit birokrasi, misalnya standar isi dan standar kompetensi lulusan yang kaku dan padat, pengadaan bahan ajar dan buku disetok dari Depdiknas (pusat), evaluasi hasil belajar nasional, sedangkan peran masyarakat masih belum diberi jalan lempang.
Patut kita catat, dari segi peran teknologi pembelajaran, pendidikan alternatif atau sekolah alternatif lebih familiar pada penggunaan metode pembelajarannya. Metode yang digunakan biasanya menggunakan active learning dan discovery learning dengan mengedepankan pembinaan terhadap multiple intelligence. Lembaga pendidikan dan pendidik benar-benar berperan memfasilitasi (bukannya mencetak), memotivasi setiap siswa sesuai dengan potensi dan minat masing-masing. Oleh karena itu, tidak ada istilah juara kelas atau rangking dikelas, tapi yang ada juara bidang, misalnya juara bidang biologi, olahraga, seni, dan sebagainya.
Sumber bacaan:
Utsman. 2007. Pendidikan Alternatif dan Perubahan Sosial. Makalah disampaikan pada Seminar Fakultas Ilmu Pendidikan Unnes, 21 Mei 2007.
Yusuf, Amin. 2007. Pendidikan Alternatif, Teori dan Implikasinya. Makalah disampaikan pada Seminar Fakultas Ilmu Pendidikan, 21 Mei 2007 Unnes.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar