(memory akhir KMD Unnes 2,3,9,10,15,16,17 Mei 2009)
7 hari yang begitu melelahkan namun mengesankan, paripurna sudah. 7 hari melayani dan mencoba terus melayani. 7 hari membalas SMS peserta, menjawab telepon mereka yang bingung akan tugas-tugas. 7 hari mematut raut wajah ini dengan senyum, senyum insan, senyum pelatih. 7 hari melihat perubahan, dari yang belum berhasduk menjadi berhasduk, dari yang awam tentang pramuka, hingga lincah menaksir tinggi tiang listrik..he he he. 7 hari menikmati nasi rames plus telur. 7 hari melihat mereka datang jam 7.15 pagi. 7 hari menjawab izin peserta dengan berbagai alasannya. 7 hari merangkai kata penuh makna (meski aku bukan pujangga). 7 hari mencoba membangkitkan semangat.
Minggu 10 Mei 2009, pagi sekitar pukul 8. Seseorang masuk ruangan itu, dengan takzim mengucapkan salam “assalamu’alaikum”. Segera menjawab dan menyilakannya masuk, saya benar masih ingat nama depannya dan ia mahasiswa “Perancis”. Memintanya menunggu sebentar karena saya sedang menyiapkan beberap lembar presensi peserta dan kesiapan pelaksanaan jadwal hari itu.
Itu adalah hari ketiga pelaksanaan Kursus Mahir Dasar (KMD) di Unnes. Wajahnya memang agak pucat, nafas yang masih agak memburu karena harus menaiki tangga gedung C6. Duduk di kursi yang tepat lurus di depan saya di batasi beberapa kursi, saya lirik sebentar tampaknya raut mukanya benar-benar pucat dan tangan memegangi kening seolah menahan rasa. “Kak, apa sedang sakit?”. Tak ada jawaban, pikir saya mungkin tak begitu mendengarkan suara saya. Saya kembali melanjutkan mengetik beberapa ide.
Sungguh tak menduga, ia pingsan, itu pun saya ketahui ketika seorang panitia menawarkan sega krempyeng untuk sarapan. “Kak Wid, ia semalam juga pingsan di kos temannya, terus pagi ini perutnya masih kosong”. Tak ada sahutan, pingsan. Ramai seketika itu, panitia berhambur, namun saya masih tak bergerak bangkit dari kursi. Meski dilematis antara menolong ataukah tidak, saya yakin akan bisa banyak membantu, tapi memegangnya pun tak berani, pikir saya “dia bukan muhrim saya”.
Hanya pertanyaan dan saran kepada panitia coba saya utarakan untuk mengorek keadaannya yang terbaring di tikar, Kak Ringsung (pemimpin kursus) turun tangan. Saya hanya mendekat mencoba menyarankan ini dan itu. Kondisi sedikit membaik ketika seorang kakak (teman kuliahnya) masuk mencoba memberi pertolongan. Alhamdulillah Ia sadar, dan ketika air teh itu sudah diteguknya itu berarti ia telah sadar. Bukan dengan maksud berbasa-basi, sedikit mendekat, saya pandangi wajahnya dan “tawarkan” sunggingan senyum padanya, hanya itu.
Kakak-kakak, kejadian pagi itu menjadi tambahan sejarah dan cerita berkesan selama KMD, minimal bagi saya. Mencoba mengenal dan menggugah 207 orang peserta, diantaranya 165 orang puteri dan 42 orang putera. Sebagian besar adalah mahasiswa yang mencoba belajar bagaimana menjadi Pembina yang berkualitas.
Kami para pelatih hanya mencoba melayani mereka sebaik-baiknya, itu pun sebagai semboyan saya. Bermaksud memberatkan? tentu tidak, meski ada tugas-tugas yang mesti diselesaikan para peserta dengan tepat waktu dan tepat mutu. Kami tak ingin memanjakan mereka. KMD ini adalah kawah Candradimuka. Sebagai percontohan bagi KMD yang direncanakan tahun depan bagi seluruh mahasiswa kependdikan di Unnes. Standar kelulusan kursus mesti dinaikkan grade-nya.
Dan kini, kalau toh ada 2 peserta yang belum bisa menerima sertifikatnya, mereka telah menerima haknya sebagai seorang Pembina. Memperkuat barisan pengayom dan pelindung peserta didik di berbagai satuan kepramukaan.
Di dalam wahana selama 7 hari ini, memang sedikit yang bisa kami berikan. Namun, percayalah bahwa saya sendiri sebagai pelatih tetap belajar dan berusaha belajar untuk ikhlas. Ada plus minus dari sekian hal yang coba kami berikan, itupun barangkali lebih banyak kurangnya.
Saatnya membacakan hasil kerja keras mereka, dag dig dug bukan hanya hak para peserta saja, tim pelatih juga tegang membahas kelulusan peserta. Peserta dianggap memiliki antusiasme tinggi, tertib mengerjakan tugas dan catatan. Dan cukup mencengangkan ketika mengetahui hasil postest meningkat drastis dibandingkan pretest-nya. Saya geleng-geleng senyum tak henti-henti, apalagi saya wali kelas D. Tim pelatih menangkap pesan yang sama, bahwa KMD ini adalah salah satu kursus yang berkualitas, salah KMD terbaik yang terselenggara 2 tahun terakhir ini. Ya itulah penilaian yang diberikan, paling tidak selama saya bergabung dengan Lemdikacab Cakrabaswara selama lebih kurang 1,5 tahun ini.
Kini mereka berdiri bukan sebagai peserta KMD, kita adalah mitra sesama Pembina. Mereka pantas ditahbiskan menjadi Pembina. Setelah berjibaku dengan beberap tugas dari pelatih, berselimut malam yang dingin dan tetesan hujan, lumpur yang menggumpal di sepatu, perkemahan yang becek. Itulah kakak-kakak, sebuah penghayatan. Suatu saat ketika sudah aktif di gugusdepan menjadi Pembina/pembantu Pembina, maka kakak memiliki cerita bahwa berkemah dalam kondisi seperti itu sulit (padahal itu bagi orang dewasa, bagaimana jika bagi peserta didik berumur 7-17 tahun). Merasakan pahit getirnya adalah pelajaran berharga. Tak ada yang dipermudah maupun dipersulit.
Lali karo aku ora popo, tetapi hal-hal barangkali sebagai hal baik yang saya sampaikan semoga berkesan dan dapat diamalkan. Kecintaan saya kepada pramuka hingga kini tak berhenti, ini adalah sangu membangun rumah di surga…amin.
Witing Tresno iku jalaran seko kulino. Moga-moga ada CBSA Pramuka diantara kakak-kakak, CBSA tetap dalam kaidah syar’i agama.
Itulah pesan saya… “kalau kau suka hati tepuk tangan; tukang tahu tukang tempe toel toel; ketika aku masih ngantuk, ku tak tahu apa itu getuk; makan telo gosong sama-sama kulite; dan jagung arab tongkole gedhi…; sedetik di mata, selamanya di jiwa. Salam pramuka!
Sebuah tulisan yang tak kohesif dan koherensif.
Widodo/19-5-2009/Semarang, Selasa Pahing.
7 hari yang begitu melelahkan namun mengesankan, paripurna sudah. 7 hari melayani dan mencoba terus melayani. 7 hari membalas SMS peserta, menjawab telepon mereka yang bingung akan tugas-tugas. 7 hari mematut raut wajah ini dengan senyum, senyum insan, senyum pelatih. 7 hari melihat perubahan, dari yang belum berhasduk menjadi berhasduk, dari yang awam tentang pramuka, hingga lincah menaksir tinggi tiang listrik..he he he. 7 hari menikmati nasi rames plus telur. 7 hari melihat mereka datang jam 7.15 pagi. 7 hari menjawab izin peserta dengan berbagai alasannya. 7 hari merangkai kata penuh makna (meski aku bukan pujangga). 7 hari mencoba membangkitkan semangat.
Minggu 10 Mei 2009, pagi sekitar pukul 8. Seseorang masuk ruangan itu, dengan takzim mengucapkan salam “assalamu’alaikum”. Segera menjawab dan menyilakannya masuk, saya benar masih ingat nama depannya dan ia mahasiswa “Perancis”. Memintanya menunggu sebentar karena saya sedang menyiapkan beberap lembar presensi peserta dan kesiapan pelaksanaan jadwal hari itu.
Itu adalah hari ketiga pelaksanaan Kursus Mahir Dasar (KMD) di Unnes. Wajahnya memang agak pucat, nafas yang masih agak memburu karena harus menaiki tangga gedung C6. Duduk di kursi yang tepat lurus di depan saya di batasi beberapa kursi, saya lirik sebentar tampaknya raut mukanya benar-benar pucat dan tangan memegangi kening seolah menahan rasa. “Kak, apa sedang sakit?”. Tak ada jawaban, pikir saya mungkin tak begitu mendengarkan suara saya. Saya kembali melanjutkan mengetik beberapa ide.
Sungguh tak menduga, ia pingsan, itu pun saya ketahui ketika seorang panitia menawarkan sega krempyeng untuk sarapan. “Kak Wid, ia semalam juga pingsan di kos temannya, terus pagi ini perutnya masih kosong”. Tak ada sahutan, pingsan. Ramai seketika itu, panitia berhambur, namun saya masih tak bergerak bangkit dari kursi. Meski dilematis antara menolong ataukah tidak, saya yakin akan bisa banyak membantu, tapi memegangnya pun tak berani, pikir saya “dia bukan muhrim saya”.
Hanya pertanyaan dan saran kepada panitia coba saya utarakan untuk mengorek keadaannya yang terbaring di tikar, Kak Ringsung (pemimpin kursus) turun tangan. Saya hanya mendekat mencoba menyarankan ini dan itu. Kondisi sedikit membaik ketika seorang kakak (teman kuliahnya) masuk mencoba memberi pertolongan. Alhamdulillah Ia sadar, dan ketika air teh itu sudah diteguknya itu berarti ia telah sadar. Bukan dengan maksud berbasa-basi, sedikit mendekat, saya pandangi wajahnya dan “tawarkan” sunggingan senyum padanya, hanya itu.
Kakak-kakak, kejadian pagi itu menjadi tambahan sejarah dan cerita berkesan selama KMD, minimal bagi saya. Mencoba mengenal dan menggugah 207 orang peserta, diantaranya 165 orang puteri dan 42 orang putera. Sebagian besar adalah mahasiswa yang mencoba belajar bagaimana menjadi Pembina yang berkualitas.
Kami para pelatih hanya mencoba melayani mereka sebaik-baiknya, itu pun sebagai semboyan saya. Bermaksud memberatkan? tentu tidak, meski ada tugas-tugas yang mesti diselesaikan para peserta dengan tepat waktu dan tepat mutu. Kami tak ingin memanjakan mereka. KMD ini adalah kawah Candradimuka. Sebagai percontohan bagi KMD yang direncanakan tahun depan bagi seluruh mahasiswa kependdikan di Unnes. Standar kelulusan kursus mesti dinaikkan grade-nya.
Dan kini, kalau toh ada 2 peserta yang belum bisa menerima sertifikatnya, mereka telah menerima haknya sebagai seorang Pembina. Memperkuat barisan pengayom dan pelindung peserta didik di berbagai satuan kepramukaan.
Di dalam wahana selama 7 hari ini, memang sedikit yang bisa kami berikan. Namun, percayalah bahwa saya sendiri sebagai pelatih tetap belajar dan berusaha belajar untuk ikhlas. Ada plus minus dari sekian hal yang coba kami berikan, itupun barangkali lebih banyak kurangnya.
Saatnya membacakan hasil kerja keras mereka, dag dig dug bukan hanya hak para peserta saja, tim pelatih juga tegang membahas kelulusan peserta. Peserta dianggap memiliki antusiasme tinggi, tertib mengerjakan tugas dan catatan. Dan cukup mencengangkan ketika mengetahui hasil postest meningkat drastis dibandingkan pretest-nya. Saya geleng-geleng senyum tak henti-henti, apalagi saya wali kelas D. Tim pelatih menangkap pesan yang sama, bahwa KMD ini adalah salah satu kursus yang berkualitas, salah KMD terbaik yang terselenggara 2 tahun terakhir ini. Ya itulah penilaian yang diberikan, paling tidak selama saya bergabung dengan Lemdikacab Cakrabaswara selama lebih kurang 1,5 tahun ini.
Kini mereka berdiri bukan sebagai peserta KMD, kita adalah mitra sesama Pembina. Mereka pantas ditahbiskan menjadi Pembina. Setelah berjibaku dengan beberap tugas dari pelatih, berselimut malam yang dingin dan tetesan hujan, lumpur yang menggumpal di sepatu, perkemahan yang becek. Itulah kakak-kakak, sebuah penghayatan. Suatu saat ketika sudah aktif di gugusdepan menjadi Pembina/pembantu Pembina, maka kakak memiliki cerita bahwa berkemah dalam kondisi seperti itu sulit (padahal itu bagi orang dewasa, bagaimana jika bagi peserta didik berumur 7-17 tahun). Merasakan pahit getirnya adalah pelajaran berharga. Tak ada yang dipermudah maupun dipersulit.
Lali karo aku ora popo, tetapi hal-hal barangkali sebagai hal baik yang saya sampaikan semoga berkesan dan dapat diamalkan. Kecintaan saya kepada pramuka hingga kini tak berhenti, ini adalah sangu membangun rumah di surga…amin.
Witing Tresno iku jalaran seko kulino. Moga-moga ada CBSA Pramuka diantara kakak-kakak, CBSA tetap dalam kaidah syar’i agama.
Itulah pesan saya… “kalau kau suka hati tepuk tangan; tukang tahu tukang tempe toel toel; ketika aku masih ngantuk, ku tak tahu apa itu getuk; makan telo gosong sama-sama kulite; dan jagung arab tongkole gedhi…; sedetik di mata, selamanya di jiwa. Salam pramuka!
Sebuah tulisan yang tak kohesif dan koherensif.
Widodo/19-5-2009/Semarang, Selasa Pahing.

2 komentar:
kak,ney astri widiarti,peserta KMD UNNES,,menanggapi artikel kakak,,saya salut dengan semangat kakak2 pembina selama menjadi pembina KMD,dengan usia yg bisa dktakan sepuh,tetap berjiwa muda,dan semangat yg tinggi dlm mengikuti keg pramuka sbg pembina..saya mengerti,smua tgs dan perijinan yg ada selama KMD,bkn untk mempersulit,melainkn untk melatih kedisiplinan dan tanggung jawab. Namun,jk seandainy ad peserta yg pingsan,mgkn akn lbh baik,jk lgsg dtolg tNp bpkr muhrim atpun bukan..krn mNrt saya,it berkaitan dg nyawa.krn mNrt saya,stiap dtk ny sgt brharga dlm keadaan spt itu.tp ini mNrt pendpt saya. Dan mgenai KMD ny sendiri, mNrt saya amt sgt berguna. Dan skg, bs dterapkn ktk KKN,dan bnr2 drasakan manfaatnya..terima kasih untk kakak2 pembina yg tetap dg sman9at melatih kami.
ya ya...terima kasih atas komentarnya. terkait yang semaput itu, waktu itu karena ada kakak2 putri yang bisa menangani...jadi ya ta'pasrahke. pokokmen pramuka sepanjang hayat.
semoga bermanfaat,
trima kasih.
Posting Komentar