by widodo
1.Teori Behavioristik BF. Skinner
Praktisnya dalam suatu pembelajaran di kelas, kehendak teori “Skinner” adalah perlunya memberikan tugas-tugas kepada siswa secara simultan dan semakin-lama akan semakin sulit/rumit/kompleks. Pemberian resitasi kepada siswa/anak akan meningkatkan penguatan basis pengetahuan dan bertahannya suatu kerangka tingkah laku yang khas, artinya akan membentuk pribadi anak.
Tugas yang diberikan dari yang sederhana menuju ke hal-hal yang semakin kompleks. Meski percobaan teori belajar umumnya menggunakan model hewan, namun ada kecenderungan bahwa manusia itu cerdas dan lebih kuat dalam menangkap pesan.
Dalam menghadapi beragamnya tingkah laku dan sikap anak, Skinner tidak menganjurkan adanya hukuman/punishment kepada anak. Hal ini dilakukan karena dengan hukuman, anak mengalami penguatan negatif. Misalnya, kemalasan belajar anak, jika kemudian guru menghukumnya dengan menjemurnya di tengah lapangan selama berjam-jam, maka efeknya tidak akan baik. Bisa jadi, anak akan makin malas atau bisa juga menjadi takut, tapi takut kepada gurunya, bukan takut kepada pengulangan terhadap kesalahan yang sama.
Skinner sudah menyadari bahwa penguatan dapat terjadi melalui penguatan alami, guru tak perlu memerintahkan suatu kerangka tingkah laku kepada anak demi membentuk kebiasaan-kebiasaan baik. Dengan makin berkembangnya struktur kognitif dan afektif anak, maka lambat-laun anak akan menyadari kebutuhannya, termasuk kebutuhan belajar. Namun penguatan alami ini tidak akan berhasil jika penguatan berkondisi tidak dilakukan dari luar diri anak (eksternal). Bagaimana mungkin akan berbuat baik, atau melakukan tugasnya, apabila guru tidak menunjukkan jalan atau cara sederhana guna memecahkan masalah. Inilah pentingnya pengenalan suatu masalah kepada anak.
Ada beberapa Kelebihan toeri Skinner terlatak pada sumbangsihnya untuk pembelajaran. Pertama, usaha untuk mencari kondisi dan tingkah laku yang merupakan perwujudan dari keadaan seperti “tidak termotivasi” merupakan suatu langkah yang penting dalam upaya menemukan cara-cara tindakan yang tepat. Guru yang menghadapi kelas anak/siswanya dalam keadaan yang tidak menyenangkan, maka guru harus mengusahakan cara-cara kreatif untuk menciptakan kelas yang happy. Artinya, guru harus berusaha kreatif. Demikian pula, ketika kelas telah berkondisi senang dan anak aktif belajar, guru pun tidak tinggal diam. Ia harus aktif untuk tidak terlalu membiarkan anak dalam kesenangan belajar. Jadi, anak ibarat mesin mobil, maka kecepatan lajunya harus diperhatikan, ada saatnya mengerem, maka ada saatnya pula untuk meng-gas lajunya.
Kedua, pengamatan yang dilakukannya terhadap kelas-kelas sekarang ini mengungkapkan banyak penggunaan penguatan yang tidak konsisten dan tidak kontingensial dan ini menjadi penyebab timbulnya masalah-masalah disiplin kelas. Untuk mengatasi masalah ini, langkah yang penting ialah melakukan kepuasan terhadap situasi interaktif dalam pengertian-pengertian stimulus diskriminatif, respon, dan penguatan. Jadi, perilaku anak yang mengejala positif demi kelas yang progresif harus diupayakan untuk paling tidak mempertahankan kondisi “baik” tersebut. Seperti lampu merah-hijau-kuning pada rambu lalu lintas. Rambu itu untuk mengatur pergerakan kendaraan di jalan umum, ketika kondisi pengendara dan pejalan kaki telah tertib, bukan berarti rambu itu dihilangkan. Justru, rambu itu dipakemkan untuk terus dilaksanakan, agar dapat meminimalisasi kondisi penuruan respon berkondisi tersebut. Di dalam pembelajaran, pemberian motivasi belajar kepada anak dengan memberikan bonus nilai kepada anak-anak yang aktif bertanya juga tetap dilakukan/dipertahankan, meskipun sekarang kondisi sebagian besar anak telah bersikap aktif dalam proses belajar mengajar.
Ketiga, material belajar berprogram juga digunakan dengan baik, dapat memberikan layanan terhadap adanya perbedaan perseorangan di antara siswa di kelas. Tampaknya keuntungan teori ini akan terus dinikmati, karena kecenderungan besar menunjukkan bahwa perbedaan karakter anak, jika tidak diperhatikan oleh guru, maka akan muncul gejala perilaku negatif di kelas. Siswa yang berbeda dalam banyak hal, misalnya dalam hal karakter, kebiasaan, bakat, minat, dan kreativitas, apabila tidak diberikan porsi secara individual akan berakibat hilangnya kemampuan dan karakter anak itu sendiri. Guru memang bukan orang yang membentuk karakter, namun perannya dalam pembentukan karakter sangat besar. Tantangan dari teori ini –khususnya pada kelas-kelas belajar di Indonesia- adalah adanya pembelajaran individu, bukan klasikal.
Manfaat dari beberapa unit pendek pembelajaran berprograma tentang keterampilan spesifik ada dua macam. Disiapkannya remidial yang ditujukan untuk lemahan-kelemahan khusus tertentu. Seringkali siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung karena tidak memiliki keterampilan khusus tertentu. Kelau kelemahan itu dibiarkan, hal ini akan memperparah masalah. Dalam hal ini, anak akan sulit menganalisis hal-hal yang rumit bila hal-hal yang sederhana tidak bisa ia identifikasi. Manfaat kedua yaitu material pembelajaran seperti itu dapat membantu guru dalam individualisasi pembelajaran. Siswa-siswa yang masuk sekolah tidak memiliki keterampilan-keterampilan esensial tertentu atau mereka mengalami kesulitan mengikuti suatu pokok bahasan dalam pengajaran yang mula-mula bisa diberikan material tersebut sementara guru membantu siswa-siswa lain yang mengalami kesulitan lain.
Kelemahan Teori Behavioristik Skinner juga berkaitan dengan kelebihannya tadi. Bahwa teknologi untuk melakukan analisis ekperimen mental terhadap perilaku manusia yang rumit itu tidak bisa lengkap. Sekumpulan siswa merespon dengan baik dalam situasi yang terstruktur dengan tujuan serta langkah-langkah yang harus ditempuh disebutkan secara khusus dan jelas. Tetapi, siswa lain memperoleh penguatan oleh adanya kesempatan untuk melakukan sendiri discovery dan eksplorasi pikiran tanpa pengarahan dari guru atau orang lain. Prosedur untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan ini dan yang lainnya dalam keragaman penguatan potensial yang ada masih perlu dikembangkan.
Ketika guru mengadakan pembelajaran di kelas, akan sulit menentukan mana siswa yang perlu mendapat penguatan berkondisi atau dengan sengaja dibentuk, mana pula yang perlu diberi kesempatan melakukan penguatan alami. Jika hal itu sulit dilakukan, maka guru akan kesulitan dalam memberikan stimulus kepada anak. Apakah faktor kecerdasan/intelegensi berpengaruh terhadap penentuan kedua penguatan ini, tampaknya belum ada penelitian eksperimen yang represntatif dilakukan sejauh ini.
Kelemahan lain adalah meskipun siswa sering merespon suatu stimulus. Kemudian banyaknya atau seringnya respon anak menjadi ukuran bahwa anak berhasil belajar, hal itu hanya terjadi pada peristiwa-peristiwa sederhana, misalnya anak yang diminta untuk menyebutkan barang-barang yang dibawa ke sekolah atau diminta menghitung jumlah uang yang dibawanya, anak dapat dengan mudah untuk menyebutkannya. Namun, ketika tahap belajar dilanjutkan kepada sesuatu yang lebih kompleks, misalnya anak diminta menghitung besarnya keuntungan suatu perusahaan (pada pelajaran ekonomi), anak menghadapi kesulitan, padahal respon anak sangat baik pada banyak hal yang sederhana.
2.Teori Neo-Behavioristik Robert Gagne
Asas-asas belajar Robert Gagne merupakan hasil dari pencariannya terhadap faktor-faktor yang berpengaruh pada hakikat belajar yang kompleks yang terjadi pada diri orang. Teori Gagne.
Dalam kaitannya dengan pertumbuhan-kesiapan belajar, pola pertumbuhan tertentu harus terjadi sebelum belajar ada manfaatnya. Misalnya, menyarankan hendaknya membaca tidak diajarkan kepada anak sebelum mencapai usia tertentu, misalnya 6 atau 7 tahun. Model ini tampaknya mengilhami pembelajaran sistem pendidikan Indonesia. Sehingga kemudian dikenal adanya play group, taman kanak-kanak (TK), SD, SMP, SMA/SMK dan seterusnya.
Sumbangan penting teori Gagne adalah adanya model belajar kumulatif. Bahwa belajar kumulatif sifatnya. Artinya, banyak keterampilan yang dipelajari memberikan sumbangan bagi belajar keterampilan yang lebih dan semakin rumit. Sebagai contoh, keterampilan membaca dan menulis pada anak-anak kelas rendah sekolah dasar. Keterampilan ini menyumbang keterampilan yang lebih kompleks, misalnya setelah membaca, ia menulis karangan atau prosa. Tentu anak tidak perlu belajar ualang untuk membaca sekali lagi ketika belajar membuat karangan. Justru, membaca dipadukan dengan keterampilan yang baru.
Salah satu kekhasan teori Gagne adalah ketika Gagne menyusun penjelasan proses belajar dimulai dengan mempelajari kekompleksan dan keragaman yang merupakan ciri belajar pada orang dan mengembangkan sistem yang mencoba menjelaskan adanya keragaman itu.
Dari teori Gagne, sesuatu hal sebagai penyikapan positif atas teorinya adalah pentingnya perencanaan pembelajaran di kelas agar dapat efektif dan efisien. Keterampilan-keterampilan yang akan dipelajari siswa dirancang dalam bentuk tujuan performansi dan ragam belajar yang ada ditemukan. Jadi, penting sekali bagi guru untuk membuat kerangka administratif suatu dokumen persiapan mengajar agar siswa dapat menguasai sejumlah kompetensi yang berguna. Hal inilah yang mengilhami pemberlakuan kurikulum di Indonesia, dimana guru harus membuat silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hal ini dilakukan agar proses belajar-mengajar dapat terlaksana secara sistematis dan terprogram. Dengan proses yang demikian, maka diharapkan tujuan pembelajaran akan tercapai sebagaimana rumusan yang telah ditetapkan. Selain itu, guru dapat menemukan langkah antisipatif ketika menghadapi kendala dalam pembelajaran.
Teori ini dapat mengoperasionalisasikan konsep belajar kumulatif dan memberikan mekanisme untuk merancang pembelajaran dari sederhana ke kompleks. Konsep hierarki belajar telah menjadi komponen kurikulum baku dalam berbagai bidang ajaran. Di samping itu, teori ini memberikan kerangka kerja yang kohesif untuk pengembangan temuan tentang hakikat belajar manusia. Teori ini juga memberikan mekanisme untuk melaksanakan konsep-konsep yang ditemukan oleh teori pengolah informasi.
Kelemahan, teori ini dikembangkan untuk menjelaskan luasnya proses psikologi yang diketahui dalam penelitian terdahulu mengenai belajar dan untuk menentukan secara tepat urutan acara-acara pembelajaran untuk proses-proses yang telah diketahui. Dengan demikian, teori ini lebih praktis bagi tim perancang dan pengembang kurikulum untuk melaksanakannnya daripada bagi guru kelas untuk menggunakannya. Apalagi, tidak jarang guru merasa siap mengajar meskipun tanpa membuat persiapan tertulis (membuat RPP) karena berasumsi bahwa ia telah menguasai kelas dan menguasai materi pelajaran. Agaknya kelamahan ini bisa disikapi secara positif jika memperhatikan bahwa semangat kurikulum yang diberlakukan di Indonesia saat ini adalah kurikulum operasional yang disusun oleh setiap satuan pendidikan. Guru diberi peran yang besar untuk menyusun, mengembangkan, mengevaluasi dan menilai kurikulum yang ada di sekolahnya.
Atas berbagai pandangannya, Gagne dikelompokkan sebagai bagian kelompok Psikologi Neo-Behavioristik. Karakteristik yang sangat membedakan teori Gagne dari teori belajar lain, yaitu:
a.Dia menyampaikan variasi kategori belajar (secara variatif disebut kategori belajar, hasil belajar, atau yang sekarang disebut kemahiran intelektual). Dalam penjelajahan pemikiran selanjutnya, Gagne merumuskan kategori belajar yang menyatakan tentang apa yang dipelajari oleh pembelajar dalam melaksanakan pembelajaran terancang/berprograma/sistematis.
b.Dia mengakui pentingnya memperhatikan fungsi proses mental internal yang mengatur belajar seseorang.
Sumber Pustaka
Anni, Chatarina Tri, et.al. 2006. Psikologi Belajar (Edisi Revisi). Semarang: UPT MKK Unnes.
Darsono, Max. et.al. 2001. Belajar dan Pembelajaran (cetakan kedua). Semarang: IKIP Semarang Press.
Gredler, Margaret E. Bell. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Translated by Prof. Dr. Munandir, M.A. dari buku Learning and Instruction, Theory Into Practice. 1986. Jakarta: CV. Rajawali.
Munib, Achmad. et.al. 2006. Pengantar Ilmu Pendidikan. Cetakan ketiga 2006: Edisi Revisi. Semarang: UPT MKK Unnes.
Rabu, April 01, 2009
ANALISIS TEORI BELAJAR (a)Teori Behavioristik BF. Skinner (b) Teori Robert Gagne
Rindu pendidikan bermartabat&Merdeka. Kepramukaan adalah jalanku, sepanjang hayat. Kelahiran Wonogiri, 7 April 1984. SDN 56 Pangkal Pinang, SMPN 2 Jatipurno Wonogiri, SMAN 1 Jatisrono Wonogiri, S1 Kurtekdik Unnes, S2 Kurikulum&Teknologi Pembelajaran 2010, S3 Manajemen Kependidikan 2025. Sebaik-baiknya insan adalah yang bermanfaat bagi sesamanya;. per Oktober 2022 guru SMA N 13 Semarang menikah dengan Sri Edy Nugroho Wati (7 Nov 2010). Putra kami:Darma Brotosejati (22 Des/2011; Damaris Amrina Rosyada (5 Agust2015); Jannur Damarjati (18 Mar2018).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
DARI MASA KE MASA
DOAKU
Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Atur Pembuka

Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!
1 komentar:
SALAM KENAL AJA DARI ALUMNI SMPN 2 JATIPURNO ANGKATAN PERTAMA NAMAKU SURIS DARI SMP AGAK KEUTARA SEDIKIT DULU BERJUANG SEKOLAH DI BALEDESA KOPEN DEPAN LAPANGAN. STMKU DI JATISRONO TA 1996-1998 PURNA DKR JATISRONO DAN DKC KOORDINASI WNG PERNAH RAIMUNA 1998 DI CIBUBUR , SEKARANG AKU DIMILITER TEPATNYA YONARMED-7/105 GS BEKASI DAN MASIH MENGURUSI PRAMUKA JUGA TEPATNYA SAKA WIRAKARTIKA TNI-AD SAYA JUGA NGAK MALU BERKECIMPUNG DI PRAMUKA fECEBOOK SAYA bintangashar@gmail.com atau wirakartika.army@gmail.com SALAM TETAP SEMANGAT UNTUK MENGABDI DI PRAMUKA BERSAMA-SAMA
Posting Komentar