
Akhir masa studi mahasiswa, secara umum mensyaratkan mahasiswa harus membuat tugas akhir/skripsi/tesis/atau disertasi. Kata orang, baik yang sudah jadi dosen atau alumni mahasiswa, proses paling sulit dalam studi adalah ketika membuat tugas akhir ini.
Mahasiswa sering mengeluhkan proses pembimbingan yang sulit. Sulit bertemu dosen (yang ngakunya sibuk), tidak mendapatkan ilham permasalahan yang akan diteliti, sampai bingung soal metodologi penelitian. Kesulitan dalam soal teknis akademis ini, sangat berkait erat dengan kuliah pengantar untuk membuat tugas akhir, diantaranya statistik, penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dapat diduga, bahwa ketika hasil mata kuliah yang koheren dengan penelitian tersebut belum memberikan nilai yang baik, mahasiswa akan mengalamai kesulitan dalam menyusun suatu tugas akhir.
Beberapa dosen yang terbiasa atau disebut jagonya penelitian ada kalanya sulit menyampaikan teori-teori atau metodologi penelitian dalam peruliahan. Bahasa yang njlimet dan sangat “hi-tech” cukup menyulitkan mahasiswa untuk menjabarkannya dalam rencana penelitian. Walhasil, ketika masanya membuat tugas akhir telah tiba, mahasiswa harus belajar lagi dengan rajin membaca, dari buku bertema penelitian, buku umum, sampai dengan skripsi atau tugas akhir orang lain.
Adanya kesulitan ini, secara manusiawi memunculkan pemikiran dengan apa yang di sebut sebagai “akal-akalan”. Berbagai cara berusaha ditempuh oleh mahasiswa untuk merampungkan tugas akhirnya. Ada yang membuat sendiri dengan semampu-mampunya (kurang mampu tapi dipaksakan), ada yang mencari pembimbing ke-3 (teman se-kos, kakak kelas), atau ada yang ndandakke.
Namun, kesulitan mahasiswa ini tidak semata-mata karena persoalan teknis akademis. Proses adalah kata kunci penyelesaian tugas itu agar didapat hasil dan wujud laporan tugas akhir yang bermutu. Tak jarang kita temukan mahasiswa yang selama pembimbingan dengan dosen, ketika berhadapan dengan dosen tampak sopan dan hormat, bahkan ada rela mengantarkan “gulo teh” ke rumah dosen. Semua itu dilakukan demi kemudahan proses penyelesaian tugas akhirnya itu. Tentu ini sah-sah saja, daripada pesan skripsi ke rumah produksi skripsi.
Penyebab kegagalan atau keterlambatan dalam penyelesaian tugas akhir juga karena pendekatan mahasiswa yang keliru kepada dosen. Dengan nada memojokkan dosen, misal proposal agar segera disetujui karena sudah semester 14, kalau tak lulus sekarang maka kesempatan lain adalah Drop out (DO).
Berarti, cara komunikasi ini juga menentukan. Mahasiswa tanpa pemberitahuan dahulu secara tatap muka, lalu mengirim SMS kepada dosen yang hurufnya disingkat-singkat dan terkesan “gaul”. Nah, dosen adakalanya menjadi naik pitam alias tersinggung karena isi SMS yang tidak santun. Atau mahasiswa yang tiba-tiba datang ke rumah dosen tanpa memberitahu dahulu, padahal tak semua dosen berkenan ditemui dirumah yang membahas urusan kantor. Inilah yang menunjukkan betapa softskill begitu penting.
Proses komunikasi awal yang gagal sangat berkesan bagi dosen, ketika dosen tersinggung dengan cara-cara yang ditempuh mahasiswa dalam bimbingan, menyebabkan dosen acuh melakukan pembimbingan. Akhirnya tersendatlah proses penyelesaian skripsi atau tugas akhir studinya.
Pernahkah kita perhatikan, beberapa atau banyak aktivis tidak segera lulus studi karena terjebak oleh kesibukan di lembaga kemahasiswaan. Tentu kita tak ingin mencetak mahasiswa anak emas (yang tak lulus-lulus). Keberhasilan dalam aktivitas lembaga kemahasiswaan, tidak serta merta berhasil pula dalam penyelesaian studi. Apa yang kurang? Terlalu menikmati status mahasiswanya atau terlalu sibuk ngurusi mahasiswa lain. Softskill bukan sekadar bicara komunikasi, namun kecerdasan emosional-spiritual dalam menghadapi orang lain.
Oleh karena itu, belajar kepada mereka-mereka yang telah merasakan suka duka menyusun tugas akhir studi merupakan salah satu solusi agar bimbingan dan komunikasi dengan dosen berjalan baik. Tidak dapat dinafikkan, ada dosen-dosen tertentu yang lebih berkesan dengan komunikasi yang baik daripada isi atau substansi penelitian yang dilakukan mahasiswa itu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar