
“Saya bukanlah Bush (Presiden AS saat ini)!,
Saya lebih terpercaya untuk menjadi Presiden Negara Adidaya ini!,
dan saya merasa terhormat bila diberi kesempatan memimpin Negara ini!”.
Itulah statement penutup kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik John McCain pada debat Capres AS putaran ketiga (16/10) pukul 08.00 WIB. Statement tegas dan tanpa basa-basi adalah karakteristik debat ala Pilpres AS. Beberapa hal menarik dalam debat Pipres AS memang tidak kita temukan dalam gaya, cara, poin substansi Pilpres atau kepala daerah di Indonesia.
Debat Capres AS berlangsung tiga putaran. Debat putaran pertama, dapat disaksikan langsung oleh ribuan orang seruangan. Debat putaran kedua menghadirkan beberapa puluh orang terpilih. Capres tak perlu podium khusus, cukup kursi dan meja transparan, sehingga siapapun dapat mengamati bahasa tubuh Sang Kandidat. Debat ini ditayangkan ke seluruh dunia. Amerika Serikat seakan menunjukkan kepada rakyat sejagat, ini lho pemilihan Presiden Dunia (bukan Presiden AS). Pada debat putaran ketiga, kedua kandidat dan moderator duduk semeja, sehingga antar kandidat dapat langsung bertatap mata.
Khusus debat putaran kedua (8/10, disiarkan Tv One), audiens diberi kesempatan bertanya kepada kedua Capres. Selain itu, satu moderator handal yang mengolah isu dan fakta menjadi pertanyaan bernas. Di Indonesia, komentator atau penanya sering berputar-putar pada isu lama dan memboroskan waktu, ujungnya hanya pertanyaan umum tapi tak sinkron dengan pengantarnya.
Ketika debat, misal Obama yang diberi kesempatan merespon pertanyaan, McCain yang dikritik oleh Obama cukup tersenyum dan tidak memotong jawaban. Tak ada sahut-sahutan antar kandidat (kecuali pada debat putaran ketiga). Setiap kandidat menunggu kesempatan setelah calon lain, baru ia tampil memberikan jawaban.
Hubungan interpersonal berusaha dibangun, tak jarang kedua calon mendekati audiens, menatap audiens dan jawaban diberikan tak sambil lalu. Bahkan, McCain terkadang menjawab sambil menepuk atau memegang pundak audiens dan mengucapkan terima kasih. Seakan ia dan audiens adalah teman akrab. Ingatkah! McCain menyebut audiens dengan sebutan my friends. Inilah yang disebut nguwongke uwong.
Isu yang diangkat benar-benar up to date. Kritikan kebijakan khas antar kandidat begitu tajam, soal peningkatan kualitas pendidikan, kredit perumahan, perang Irak dan terorisme, energi alternatif, pajak, politik luar negeri, dan pastinya soal krisi ekonomi global. Uniknya, meski mengkritik secara tajam dan saling serang, namun wajah mereka tetap “sejuk” dan ekspresinya tanpa kemarahan. Kandidat sangat berhati-hati dalam merespon. Agaknya ingin menunjukkan “Saya adalah Presiden AS” (bukan sebagai Calon Presiden).
Patut dicatat, retorika yang mereka “mainkan” bukan sekadar bermain kata-kata manis, mereka memiliki data faktual. Hal yang tampak sederhana diungkap, misal McCain menyebutkan jumlah kata tertentu yang dikatakan Obama pada beberapa kali pertemuan Senat, kata yang sering diucapkan ini menjadi keyword dan pasti mengandung isu sensitif berkaitan kebijakan politik dan sebagainya. Oleh McCain, jumlah keyword tersebut sengaja diungkap untuk menunjukkan kepada publik tentang sikap dan kebijakan Obama, dan sebaliknya. Jika keyword itu bernilai negatif atau berseberangan dengan respon publik, hal ini dimaksudkan untuk “menjatuhkan” kandidat lain atau pembunuhan karakter. Hal ini tak terjadi dalam debat para senator kita atau para debaters di negeri ini. Suasana yang memanas, tak terkendali dan para pelakon debat malah mengacungkan jari ke arah lawan, bahkan adu mulut dan bogem mentah dilayangkan.
Terlepas kedua Capres AS tersebut dari kubu partai apa, suasana demokrat sangat kental. Awal debat, kedua Capres bersalaman dan memberikan sapaan khas Amerika yang mungkin justru tidak seperti wong Jawa yang nggih ning ora kepanggih. Akhir debat, Capres bersama Istri bersalaman, berangkulan, menyapa dan menebar senyum, sangat tidak terpaksa.
Namun, perlu dicermati bagaimana langkah yang diambil oleh para kandidat saat kampanye atau suatu acara debat dilaksanakan. Banyak tuduhan, misalnya McCain menyatakan bahwa Obama tidak berpengalaman, tidak becus dalam kebijakan politik luar negeri, serta pro teroris. Sebaliknya –meskipun Obama lebih Soft critic- menyatakan bahwa McCain adalah penerus George Walker Bush (Presiden AS saat ini), padahal Bush telah membohongi rakyat dunia (Bush menuduh Irak memiliki senjata pemusnah massal, ini sebagai alasan menyerang Irak), bahwa kebobrokan ekonomi AS saat ini karena kesalahan Bush. Berarti, Obama ingin meyakinkan bahwa McCain akan melakukan hal yang sama seperti dilakukan Bush ketika McCain menjadi Presiden AS.
Pembunuhan karakter semacam itu tentu bertolakbelakang dengan karakter bangsa Indonesia yang Ketimuran dan katanya religius. Meskipun benar didukung data dan kesaksian yang kuat, agitasi dalam bentuk apapun tak dibenarkan. Apalagi, lebih dekat ke fitnah daripada fakta.
Jika, bahan kritik dan agitasi selama proses Pilpres atau kepala daerah di Indonesia seperti di AS, tampaknya rakyat Indonesia belum siap, hasilnya konflik sosial-politik berkepanjangan. Tak ayal dari kritik dapat berujung saling bunuh. Sikap tak legowo dalam menerima hasil pilkada, menjadikan massa pendukung kandidat yang kalah menggeruduk kantor KPU, merusak, membakar, atau merusak rumah kepala daerah terpilih. Anehnya, justru massa pendukung yang sibuk bereaksi melakukan tindakan anarkis, penentangan, bentrok, dan saling menyakiti. Lalu, siapa yang paling dirugikan? Bukankah massa pendukung itu sendiri, bukankah rakyat yang mau cari makan saja masih susah, bukankah anak-anak yang tak bisa ke sekolah karena jalan diblokir, atau kantor di segel. Sungguh naif dan ironis.
Debat yang berhasil adalah debat yang menunjukkan perbedaan, perbedaan antar kandidat. Oleh karenanya, sebaiknya kita belajar dari bagaimana Amerika menyelenggarakan debat dan bagaimana mengikuti debat (sebagai debaters-maupun audiens). Meskipun, tiada demokrasi tanpa nasi, tiada logika tanpa logistik. Sehingga, jika masih terkungkung dengan perjuangan sesuap nasi, kita sulit untuk membuat pilihan terbaik. Kalau begitu, pemerintah hanya akan memberi rangka ”demokrasi tapi anti demokrasi”, seperti orde baru. Ada ruang-ruang demokrasi, namun formalitas belaka.
Maka, demokrasi ini tak sebatas retorika para kandidat pemimpin. Saatnya para kandidat pemimpin belajar dari debat dan kampanye ala Amerika. Retorika berisi kerangka kebijakan dan to the point pada masalah masyarakat, itulah yang wajib dinyatakan dan dibuktikan. Sayangnya, bagaimana mau menunjukkan profil diri dan kebijakan memimpin, jika para kandidat takut berdebat, atau menolak berdebat. “Takut berdebat!” Penyakit apa lagi ini?

1 komentar:
CAPRES DAN CAWAPRES MULAI SALING SERANG
Hardikan, kecaman, hinaan mulai dilakukan para capres dan cawapres. Tim sukses pun tak mau ketinggalan, mulai melancarkan aksi balasan.
Mendengar kata demi kata aksi tersebut, hati serasa miris jadinya. mereka saling memburukkan, membingungkan saling serang mempertontonkan pola kampanye yang tidak sehat.
Sempitnya fikiran tim sukses pemenangan capres dan cawapres tentang strategi dan karakter calon yang diusung semakin terlihat jelas. Mereka tidak menjelaskan kepada publik apa visi dan misi capres dan cawapresnya. Yang terjadi saling serang, saling memburukkan, debat kusir. Semua yang dilakukan justru akan semakin memperparah keadaan.
Dalam mata khayal, terbayang bagaimana jika budaya saling menyerang ini berimbas ke tingkat bawah. Semua bisa menimbulkan gesekan antar simpatisan calon. Yang kalah akan terjajah, marah, sehingga menimbulkan tawuran antar pendukung.
Posting Komentar