Oleh: Sandra Novita Sari
Nasib bumi yang kita tempati semakin hari semakin merana. Lapisan ozon yang menjadi pelindunga hampir usang terkoyak-koyak oleh imbas kemajuan teknologi dari aktivitas kehidupan manusia. Disatu sisi manusia dengan kemajuan teknologinya telah menghasilkan limbah-limbah yang meracuni atmosfer. Semburan gas karbon dan gas berbahaya setiap hari dari berbagai bentuk aktivitas telah menggerogoti sistem pertahanan atmosfer. Disisi lain, hutan dengan segala keanekaragaman kekayaan flora dan faunapun terenggut.
Jumlah tumbuhan hijau sebagai makhluk "paling baik" yang merupakan tumpuan limbah-limbah kehidupan menjadi tidak seimbang. Sementara itu jumlah tunbuhan hijau yang dibutuhkan semakin besar, seiring dengan laju pertumbuhan penduduk.
Hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia telah terkalahkan oleh sektor properti, program perluasan kota, sektor industri, ekonomi, bahkan politik. Limbah kemajuan teknologi manusia dan eksploitasi besar-besaran terhadap hutan adalah dua sisi yang berkorelasi positif terhadap kerusakan lapisan ozon bumi kita.
Berangkat dari pemikiran itu, kemajuan teknologi harus bertanggunga jawab pula terhadap terjadinya krisis lahan pertanian. Pemikiran menjadikan atap rumah dan bangunan lain sebagai lahan pertanaman berawal dari kekhawatiran terhadap makin rendahnya kualitas udara dan kekhawatiran akan datangnya krisis pangan pada masa mendatang akibat lahan pertanaman yang semakin menyempit.
Meskipun disadari bahwa fungsi ekologis dari lahan pertanaman diatas atap ini tidak bisa menggantikan sepenuhnya fungsi ekologis dari hutan dan lahan pertanaman yang sesungguhnya, namun setidaknya sebagai alternatif solusi dari krisis lahan pertanaman, krisis udara bersih, dan krisis pangan, yang semakin dikhawatirkan menimpa bumi dimasa mendatang.
Faktor yang mempengaruhi lahan pertanaman diatas atap, adalah sebagai berikut:
- Menggunakan lahan yang terbatas atau pot
- Penanaman, pemeliharaan, dan pemungutan hasil sama dengan sistem bertanam dilahan sesungguhnya.
- Memperhatikan daya dukung bangunan terhadap beban air dan tanaman diatasnya.
- Mempertimbangkan kecepatan angin, tingginya intensitas matahari, dan pengaturan drainase yang baik.
- Memilih varietas yang sesuai.
_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNNES




