Senin, Oktober 26, 2009

RASA ITU HANYA DI LIDAH

Oleh Kang Wid/Smg 7-6’09

Bulan ini memang bukan Bulan Ramadhan. Obrolan soal makan, mengisi perut, dan apalagi memenuhi hasrat nafsu bawah perut tiada habisnya.

Kalau sedang makan, adakalanya saya jadi ingat dan berpikir “buat apa makan?”. Kata banyak orang, makan itu untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Sebagian orang menganggap makan itu sebagai pemenuhan hajat perut. Makan sebagai penyambung hidup.

Bukankah rasa enak makanan itu hanya sampai mulut atau kecapan lidah saja. Setelah melewati kerongkongan, sudah tak ada rasa manis, asin, pedas, atau asem kecuali rasa yang tertinggal di lidah. Kerongkongan, lambung, usus, pankreas, dan anus tak ikut merasakan rasa-rasa itu. Namun organ-organ pencernaan itu ikut memproses, dan turut merasakan dampaknya. Kata orang, kalau perut sedang sangat lapar, lambung jadi sensitif terhadap rasa asem, maka jika langsung diisi yang asem-asem bisa melilit atau bisa juga kena maag.

Belum lagi kalau makan nasi plus pecel yang pedas. Kata saya, “enak di depan tak enak di belakang”, maksudnya meski ada rasa peda ketka makan pecel, kita tetap lahap menikmati, namun giliran di pembuangan alias BAB (buang air besar), wah rasanya sering panas pedes di situ…hehe. Tetapi, itulah manusia, “kapok sambel” (meski kapok, tapi giliran lagi kepengin, ya makan lagi).

Adakalanya, kalau ingat bahwa rasa makanan itu hanya di lidah, nafsu makan saya turun. Berikutnya, makan dirasa untuk mengenyangkan atawa nggo ngganjel weteng saja. Mereka yang terbiasa menahan lapar, saya yakin akan lebih sabar menghadapi situasi ketika sedang lapar tapi makanan belum ada. Lain lagi kalau terbiasa sarapan, apalagi yang jam makannya begitu teratur dan menunya terdaftar seperti rapinya kalender. Mereka ini ketika sedang lapar sedikit saja sudah mengaduh sampai gaduh, mengomel tak karuan.

Saya senang menjadi bagian dari orang-orang yang tidak mendahulukan makan, yang berusaha prihatin dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan. Memasak sayur dan nasi bukan monopoli kaum hawa, saya mesti belajar memasak, belajar bagaimana ibu saya memasak. Demi apa? Saya tidak ingin terlalu berandai-andai, ya barangkali kalau suatu ketika istri saya sedang pergi, saya bisa menyediakan hidangan makanan buat keluarga. Pengalaman memasak saat lomba tingkat (LT III) jaman pramuka penggalang di Wonogiri dulu masih teringat benar. Meski saya tak ahli dalam hal Tekpram, memasak buat teman-teman seregu membekas menjadi kesan yang begitu mendalam.

Ada beberapa prinsip yang saya ingat, “dudu tutuk sing marani sego, tapi sego sing marani tutuk” (intinya, kita jangan nyosor seperti makannya binatang…hehe). Ada makanan sedikit disyukuri, ada banyak “ojo ngujo nepsu!” (jangan menuruti nafsu), jangan aji mumpung! Kalau tak senang dengan menunya, ya ditinggal saja, tak perlu diumpat-umpat. Menghargai makanan adalah wujud syukur kepada Alloh, itu yang saya yakini.

Menjadi pramuka tak perlu sambat (mengeluh) kalau sedang lapar. Ayo memasak!

2 komentar:

Latih_an mengatakan...

Hem..Mas Wid..Mas Wid..

AKU PRAMUKA Sepanjang Hayat mengatakan...

apa...
hehehe...piye to? dikomentari yang banyak dong dan tajam terpercaya

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!