
Tulisan ini lahir berawal dari rasa prihatin terhadap hilangnya salah satu kearifan lokal yang tak lagi membumi, ragam dolanan (permainan) anak-anak. Hal apa yang tidak dimiliki anak zaman sekarang -yang katanya zaman serba teknologi canggih- satu diantaranya yang menonjol, mereka tak lagi mengenal Dolanan bocah deso. Dolanan atau Permainan yang dimainkan anak-anak di pedesaan –bahkan juga perkotaan- ketika Indonesia masih “menderita” dan pepohonan belum banyak tergantikan beton. Penyebabnya, agaknya tak bisa untuk tidak “mengkambinghitamkan” sosio-budaya ke-Barat-baratan yang menjamur.
Anak-anak kampung di Jawa Tengah sebelum memasuki abad 21 atau era sebelum tahun 2000, masih memiliki berbagai kebiasaan “ndeso”. Anak-anak seperti si bolang (bocah petualang). Mencari ikan di sungai (istilah Solo “memet”), mencari kayu di ladang (kebon), mencari burung (ngunduh susuh manuk), mencari pakan ternak (rambanan) dan banyak lagi aktivitas anak (bocah SD sampai dengan SMA) yang umumnya untuk membantu orangtua. Kini, adakah yang demikian itu? Ada, namun tampaknya sudah tak segiat dahulu.
Jika disurvei, sebenarnya dolanan bocah yang di kenal di Jateng memiliki kesamaan teknik bermain, tapi penamaannya sering berbeda. Pada tulisan ini tak akan menjelaskan gambaran ragam masing-masing permainan ini. Banyak ragam permainan seperti congklak, bentik, gobak sodor, cibruk, ganjil, bantingan, tulup-tulupan, delikan, pandér, umbul layangan, dan masih banyak ragam dolanan yang kita kenal.
Permainan-permainan itu sudah mulai punah. Anak-anak sekarang lebih mengenal games di komputer, dan outbond, atau ragam aktivitas out door di arena bermain komersial. Teknologi informasi dan komunikasi cukup memberi andil besar terhadap perubahan itu, menjamurnya program games komputer atau dalam Handphone menyebabkan anak-anak lebih mengenal permainan serba modern tersebut.
Ditambah peran orangtua anak yang memfasilitasi sarananya, seperti video player play stations, komputer, handphone. Komputer bukan lagi barang asing bagi anak, karena hampir di semua sekolah telah ada. Games-games tersebut juga lebih mudah diperoleh dengan men-download via internet atau membeli CD games yang disediakan rental dan counter.
Anak-anak lebih menikmati games animasi program komputer juga karena tak perlu berpanasan untuk melakukannya. Datang ke rental PS (play stations), tempat ber-AC, TV berlayar besar, plus soundsystem yang menggelegar tentu lebih disenangi.
Sedangkan permainan ala kampung memang biasa dilakukan di tanah lapang, dan umumnya dilakukan siang atau sore hari, namun beberapa diantaranya dilakukan malam hari misalnya sepak bola api, delikan (petak umpet). Dolanan-dolanan ini memang membutuhkan stamina fisik karena seringnya anak berlari ke sana kemari, kotor terkena lumpur atau tanah.
Dolanan-dolanan tersebut sebenarnya memiliki dampak positif dalam konteks pendidikan kepada anak. Permainan dengan alat seadanya tersebut, sebagian besar diantaranya dilakukan berkelompok, sehingga anak terdidik mau bekerjasama dengan temannya, demokratis dan bukan hanya mau menang sendiri. Secara tidak langsung, mereka telah diajari untuk bergotong royong pada komunitas kecil.
Anak juga berlatih hidup sederhana. Peralatan yang bersumber sarana di sekitar kita. Jadi, tak perlu uang untuk membeli. Kini, kesederhanaan itu tinggal menjadi tontonan di televisi, yang menyajikan sinetron dengan artis pelakon yang berperan sebagai orang miskin dan senantiasa menderita. Pemborosan pada permainan elektronik hampir pasti terjadi karena penggunaan listrik yang berlebihan, inilah yang tak ditemukan pada dolanan.
Dolanan-dolanan tersebut juga mempengaruhi rasa patuh dan berbakti kepada orangtua. Dampak ini memang tak terlalu mencolok, tapi mari kita perhatikan bahwa dolanan itu dilakukan anak selepas membantu orangtua mereka. Kala itu, anak-anak tak boleh bermain kalau belum menyelesaikan pekerjaan rumahnya, baik tugas dari sekolah maupun tugas bantu-bantu orangtua. Dolanan dilakukan sore atau malam hari, setelah membantu ibu/bapak cari pakan ternak, menimba air, menyapu, cari kayu, atau pekerjaan rumah lainnya. Disiplin anak dapat terbentuk, apalagi jika dibatasi waktu bermainnya, misal maksimal pukul empat atau lima sore harus sudah pulang ke rumah.
Dan sekarang perubahan terjadi, membanjirnya alat permainan di pasaran akhirnya juga diketahui orangtua, sebagai wujud rasa sayang dibelilah alat-alat permainan elektronik berteknologi modern itu. Orangtua menjadi over protective. Anak berpanas-panasan sedikit tidak diperbolehkan, berhujan-hujanan atau mandi di sungai sudah tak boleh, tak kotor, taku inilah-takut itulah, lalu bagaimana kita akan mempertahankan ragam dolanan anak-anak masa “kuno” itu.
Standar ekonomi masyarakat adalah faktor yang jelas berpengaruh. Kemudahan membeli perangkat elektronik, baik dari segi harga maupun jumlah yang banyak akhirnya menjadi hal umum ketika orang membeli. Tak kalah pintar, para pembuat games komputer lalu berlomba-lomba berinovasi, menciptakan permainan baru yang makin atraktif.
Games-games elektronik ini juga meningkatkan kerawanan kesehatan, mengapa? Alasannya terkesan agak lucu dan terkesan konyol memang, karena anak terlalu lama duduk di depan komputer atau media playstations selama berjam-jam bisa lupa makan, kurang tidur, dan tentu lupa berolahraga. Bayangkan kalau duduk berjam-jam, bukankah beresiko tinggi terkena ambeien atau wasir. Jarang ke luar rumah, tentu asupan vitamin D juga kurang.
Belum lagi soal borosnya biaya bila harus menyewa media PS ke rental. Malas adalah penyakit yang hampir pasti mengiringi proses berikutnya. Anak malas membantu orangtua, malas mengerjakan pekerjaan rumah, malas beribadah, dan kemalasan lainnya.
Tetapi tak semuanya kemodern-nan itu jelek. Games-games yang menyajikan gambar, suara, kerumitan, animasi yang menawan, jelas merangsang otak untuk mencari langkah jitu menguasai lawan main. Hormon adrenalin terus terpacu karena tak jarang games-games itu menyajikan serangkaian prosedur yang membutuhkan kecepatan bertindak. Artinya, pemikiran taktis dalam mencari solusi sebuah masalah akan terlatih. Dari segi psikologi belajar dan psikologi pendidikan, aspek motorik, sensorik, kognitif, dan psikomotorik dapat dikembangkan meski terbatas.
Dinamisasi zaman tak bisa ditolak, namun kearifan lokal berwujud dolanan kuno bocah kampung ala Si bolang mesti dipertahankan bahkan dikembangkan. Orangtua dapat mendorong anak untuk membiasakan kembali dolanan-dolanan itu bagi anak-anak mereka. Si bolang atau ragam acara sejenis di stasiun televisi swasta sudah penuh skenario, alias tak lagi murni, oleh karenanya semoga si bolang-si bolang yang natural tetap eksis dengan “kenakalan” yang mengesankan. “Ada kotor, makanya belajar!”.
(juga diterbitkan Harian Kompas, 4 Oktober 2008)/widodo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar