Ryan asal Lumajang Jawa Timur, tentu kita kenal. Profil dan berita tentang dia yang memenuhi headline surat kabar dan televisi. Mencermati kasusnya, mencermati kenyataan bahwa ia adalah seorang guru ngaji di lingkungan tempat tinggalnya. Kasus pembunuhan itu bisa jadi memberi andil besar menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap guru. Guru yang mesti diteladani, yang terlihat alim, ramah dan sopan, ternyata menyimpan perbuatan keji. Hal apa yang membuat guru kehilangan kredibilitas?
Merupakan sebuah fakta bahwa Guru masa kini semakin sejahtera. Terutama di Jawa Tengah, kita hampir tak menemukan lagi, guru-guru yang tak mampu menyekolahkan anaknya sampai bangku kuliah. Sehingga, sebenarnya mengapa guru memperjuangkan nasib sampai ke gedung DPR? Sebuah ironi, ketika anak didiknya butuh pendidikan dan pengajaran yang tuntas, justru guru masih sibuk berdemo -yang katanya menuntut kenaikan gaji (baca: kesejahteraan). Guru sudah semakin sulit menemukan jati dirinya, wibawa yang pudar. Semua itu terjadi lebih dominan berawal dari tingkah-polah guru itu sendiri.
Ada perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan itu suatu hal yang wajar, apalagi ketika kondisi ekonomi negara ini belum semakin baik. Anehnya,berapa guru yang memiliki kendaraan bermotor lebih dari 1 buah. Sertifikasi guru, mau tidak mau bukan hanya bicara soal peningkatan profesionalitas, kalau mau jujur pemerintah sesungguhnya ingin saja menaikkan gaji, tapi mencari dalih dengan cara yang elegan (pakai seleksi sertifikasi).
Di tengah situasi peningkatan profesionalitas tadi, semakin menjamur kasus-kasus yang melibatkan oknum guru. Mulai dari korupsi, pencabulan, selingkuh, hingga tindakan mesum dengan siswa atau guru lain. Kejadian demikian menjadikan miris hati kita, semakin ragu akan pendidikan di sekolah-sekolah. Guru yang mestinya menjadi panutan, malah jadi biang keladi masalah. Orangtua menjadi pesimistis terhadap pendidikan kepribadian yang diberikan guru.
Menguatkan keraguan itu, Juni lalu ketika hasil Ujian Nasional diumumkan kepada siswa, berbagai respon siswa muncul. Sayangnya, ada tindakan tidak terpuji para siswa menanggapi kelulusan atau ketidaklulusan dirinya. Ada yang merusak gedung sekolah, atau siswa yang lulus malah konvoi bermotor di jalan-jalan tanpa memakai helm dan parahnya adalah Bendera Merah Putih dicoret-coret dan dijatuh-jatuhkan ke tanah. Pertanyaan besarnya, selama ini peran guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama bagaimana, padahal dua mata pelajaran ini pasti diberikan mulai dari SD sampai SMA, bahkan perguruan tinggi? Memang tak bermaksud menyalahkan, tetapi memang begitu fakta yang tak dapat disangkal, guru gagal dalam mendidik.
Ketika saya masih bersekolah dasar, yang namanya dipukul oleh guru dengan rotan atau dijemur di lapangan adalah hal biasa. Orang tua yang tahu bahwa anaknya dihukum guru, tak ada yang protes keras ke sekolah. Justru anak ditambah hukumannya dirumah. Inilah cermin bahwa orangtua percaya kepada guru, terlepas guru itu memang mendidik ataukah tidak. Orangtua hanya memahami bahwa ketika anak disekolahkan, pasti akan semakin baik bukan semakin mbeling (nakal). Istilah jawanya, orangtua sudah “mongso borong” dengan apa yang dilakukan sekolah dan guru terhadap anak-anaknya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut berbeda jauh dengan saat ini. Tak jarang orang tua langsung merespon keras terhadap perilaku guru yang menghukum anaknya karena tak mengerjakan pekerjaan rumah, misalnya anak dihukum berdiri satu kaki di depan kelas. Orangtua langsung protes ke sekolah, jika guru tak meminta maaf secara langsung, maka siap-siap dilaporkan ke polisi. Rasa sayang orangtua menjadikan mereka terlampau melindungi anaknya (over protective), tanpa mengetahui mengapa anaknya juga berbuat salah.
Guru kehilangan rasa percaya diri dan seperti tak memiliki taji. Disatu sisi, tindakan protektif orangtua yang sedemikian rupa tersebut, akan menjadikan guru berhati-hati memberikan reward maupun punishment. Ia akan memilih-milih hukuman apa yang tepat bagi siswanya ketika nakal, membawa rokok maupun pelanggaran lainnya.
Tapi di sisi lain, guru menjadi takut bertindak. Ketegasan itu menjadi pudar, wibawa atau gezag guru menjadi surut karena fungsi kendali itu sudah ditepis oleh reaksi masyarakat. Wibawa guru menjadi semakin pudar karena berbagai pelanggaran para guru. Guru menjadi profesi prestisius ketika seritifikasi guru digelontorkan oleh pemerintah. Namun, mari perhatikan, bahwa guru itu menjadi tidak semakin sederhana. Mulai dari berpakaian, berkendara, atau cara berlibur akhir pekan.
Tak salah bahwa profesi guru merupakan profesi yang menjanjikan, imbalan gaji dan penghargaan turut menjadi faktor pendorong hal ini. Sekitar tahun 2004, dengan gencarnya kembali Bahasa Jawa menjadi mata pelajaran wajib mulai dari SD hingga SMA, memunculkan penilaian bahwa jumlah guru bahasa jawa yang dibutuhkan semakin banyak. Lalu, orangtua berlomba mendorong anaknya untuk kuliah Jurusan Bahasa Jawa. Salahkah? Tentu tidak, selama niatnya tidak semata-mata demi pekerjaan, gaji, atau tunjangan. Bukankah guru profesi yang mulia, bukan sekadar mangajar tetapi mendidik.
Ketidak berdayaan guru semakin menjadi-jadi, ketika guru tergoda untuk menjadi guru alim dan berkesan baik. Ada kecendrungan menarik di dunia perseolahan kita, guru yang dielu-elukan, dipuji, dan diberi gelar sebagai guru yang baik adalah guru yang murah dalam memberi nilai, gaul dalam arti mau terlibat langsung dengan aktivitas murid (terkesan guru mau menuruti semua keinginan siswa), serta guru yang mau menuruti kehendak siswanya. Jadi, profil guru yang sekarang bukanlah guru yang profesional. Siswa tak mengerti kompetensi yang mesti dimiliki guru, seperti kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.
Bagaimanapun guru masih menjadi harapan, harapan untuk menciptakan generasi-generasi pembangun bangsa yang produktif. Tidak dapat disangkal, sudah beribu-ribu para pemimpin berbagai bidang di negeri ini, lahir dari tangan dingin guru. Meskipun diantara para cendekia dan pemimpin itu semakin banyak pula yang kemudian menjadi produktif dalam menjarah uang rakyat. Profesi guru menjadi komoditas politik, ketika seorang pengurus PGRI Jateng mengusung diri calon Wakil Gubernur Jawa Tengah. Akhirnya terjawab sudah, ia pun gagal menjadi calon wagub terpilih. Mengapa? Karena guru semakin pintar. Guru tahu bagaimana menilai mereka yang akan memperjuangkan atau malah menjatuhkan.
Oleh karena itu, tak ada jalan lain bahwa guru harus semakin diberikan tempat untuk beriimprovisasi untuk mengembangkan profesinya melalui berbagai cara, bisa dengan studi lanjut, dan pelatihan-pelatihan. Selain diberi reward, guru pun hendaknya diberi punishment terhadap tindakannya yang menyimpang, dan itu telah ada peraturannya. Jika perbaikan masih tak terjadi, mungkin kita perlu berpikir bahwa guru tak perlu ada.
Kompas 10 September 2008
* Penulis: Widodo, mahasiswa Program Pascasarjana
Prodi Kurikulum dan Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Semarang
Kamis, September 18, 2008
POPULARITAS GURU YANG MEMUDAR
Labels:
Artikel Pendidikan
Rindu pendidikan bermartabat&Merdeka. Kepramukaan adalah jalanku, sepanjang hayat. Kelahiran Wonogiri, 7 April 1984. SDN 56 Pangkal Pinang, SMPN 2 Jatipurno Wonogiri, SMAN 1 Jatisrono Wonogiri, S1 Kurtekdik Unnes, S2 Kurikulum&Teknologi Pembelajaran 2010, S3 Manajemen Kependidikan 2025. Sebaik-baiknya insan adalah yang bermanfaat bagi sesamanya;. per Oktober 2022 guru SMA N 13 Semarang menikah dengan Sri Edy Nugroho Wati (7 Nov 2010). Putra kami:Darma Brotosejati (22 Des/2011; Damaris Amrina Rosyada (5 Agust2015); Jannur Damarjati (18 Mar2018).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
DARI MASA KE MASA
DOAKU
Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Atur Pembuka

Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar