Jumat, November 09, 2007

PROFESOR UNNES “JAGO KANDANG”?

Beberapa tahun terakhir ini, hampir setiap tahunnya Unnes selalu mengukuhkan Guru Besar. Anehnya, setelah seseorang meraih gelar Doktor, dalam waktu yang relatif singkat, ia berubah bak Satria Baja Hitam menjadi Profesor. Sepintas Profesor merupakan gelar yang cukup prestisius, sebab memang masih ada stereotip bahwa profesor adalah Mbah Danyange atau Begawan yang memiliki kemampuan linuwih. Konon, seorang profesor dapat disamakan dengan Begawan zaman dulu yang ngerti sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi).
Nah, sekarang seorang profesor juga dianggap digdaya. Keahliannya bukan lagi sesuatu yang umum seperti halnya seorang sarjana. Tetapi sudah memiliki keahlian khusus dalam bidang tertentu, misalnya manajemen pendidikan, ekonomi kerakyatan, sosiolinguistik.
Perjuangan menuju pencapaian gelar ini tidaklah mudah, sehingga orang yang berpredikat profesor sangat disegani. Sayangnya, keseganan pada mereka ini terkadang masih asal tembak. Artinya, profesor selalu dinilai baik dan berkualitas nomor wahid. Benarkah hal itu? Sangat relatif.
Kini, Unnes semakin ngremboko dan giat mencetak profesor-profesor baru, sayangnya nampaknya sebagian dari mereka kehilangan ruh/spirit gelar prestisius ini. Dari sekian profesor yang ada -patut dipertanyakan- berapa profesor yang produktif berdasar keahliannya. Berapa yang aktif menuangkan ide diberbagai media? Mungkin, mereka masih berkutat pada “menjual diri” dalam forum-forum seminar yang lingkupnya relatif lokal.
Jika UGM ingin “mengandangkan” profesornya, maka Unnes harus berjuang untuk “menggembalakan” para profesornya ke berbagai arena yang lebih mengemuka. Profesor Unnes masih jago kandang. Toh, kalau sudah ada profesor yang berkarya di tingkat Regional dan Nasional, namun jumlahnya belum mencapai 5 persen dari seluruh profesor yang kita miliki. Lalu berapa profesor yang sudah go-public internasional?
Jarangnya karya-karya profesor yang mengemuka, menunjukkan lemahnya peran dan kontribusi profesor itu sendiri. Kesannya, Guru Besar adalah pendukung seremonial belaka. Cukup beralasan memang, sebab Guru Besar kita selalu menjadi “tokoh” dalam upacara wisuda, upacara dies natalis, pembukaan OKKA dan serangkaian rapat. Seharusnya mereka adalah pemain yang memiliki smart idea, bukan menjadi anak bawang.
Harusnya ada perbedaan positif antara kuliah yang dipimpin profesor dengan dosen biasa (bukan profesor). Tetapi bisa dijumpai, profesor tua duduk terkantuk-kantuk sambil memberi kuliah. Wacana progesivitas pembelajaran yang digembar-gemborkan juga belum terbukti, bahkan mahasiswa semakin jenuh. Lebih parahnya lagi, ada profesor “baru” yang ke-PD-an (over-convidence). Alih-alih memberi solusi, justru dengan ceplas-ceplosnya mengumpat berbagai fenomena peristiwa.
Profesor memang bukan malaikat. Tidak semua profesor santun bahasanya dan baik perangainya. Oleh karena itu, sangat penting dipenuhi agar seorang profesor memiliki kualifikasi akademik dan etika tata krama yang terhormat. Semoga profesor kita menjadi lebih baik dan tidak “jago kandang”.


penulis : Widodo
di muat di Majalah Kampus Express Unnes, ketika masih mahasiswa S1

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!