Oleh maswid yang tidak caem
Suatu pagi HP saya berdering, panggilan masuk, singkat kata setelah ngobrol dari soal studi hingga perjalanan akhir pekan, pembicaraan jadi tambah menarik karena soal fenomena akhir-akhir ini. Demam KCB, itulah saya sebut.
Ketika cinta bertasbih, judul film yang memang beberapa pekan ini menjadi buah bibir, buah pikir, buah tangan, dan buah rasa. Yang katanya –itu katanya- ceritanya menjadikan menitikkan air mata dan menggugah kalbu haru biru. Termasuk para ukhti dan ikhwan yang menontonnya menjadi terpesona, ingin segera menghalalkan apa yang mesti dihalalkan.
Sekian kali menonton film dan sekian banyak orang menonton film mengapa tidak belajar. Meski berkata bahwa ada pelajaran dari film itu yang berkesan. Ada soal kerja keras, kerja ikhlas, pengorbanan, kekuatan doa, rahmat dari Tuhan, dan cinta. Namun, ada beda-beda tipis antara menonton dengan hati ataukah menonton dengan pikir/logika ataukah menonton sekadar nafsu.
Mengatakan bahwa ada pelajaran dari cerita film, sayangnya pelajaran itu hanya direkam dalam pikiran, dan menjadi buah perkataan dimana-mana, di pojok-pojok kampus, di kos, dan mimbar studi mahasiswa. Lebih banyak terjadi, bukan ingin menerapkan hikmahnya, namun lebih banyak bercerita, lalu ingkar apakah kita sudah menerapkan ibrah-nya. Bercerita bahwa “Aku sudah nonton KCB lho, kamu sudah belum? Bagus banget, ceritanya itu menyentuh banget, sayang deh kalau nggak nonton!”, itukan yang sering kita dengar.
Jika di film, barangkali 99% (termasuk KCB, Ayat-ayat Cinta, dsb), dari awal dan pertengahan cerita, pelakonnya penuh penderitaan, bersusah-susah, lalu berakhir dengan kebahagiaan, rasa senang luar biasa. Pada kenyataan hidup ini sungguh berbeda, ada penderitaan, suka-duka, pengorbanan, perjuangan, dan ending-nya tidak selalu bahagia. Alloh SWT pun mengatakan, “pasti ada ujian dan cobaan bagi mereka yang merasa dirinya kuat”, jadi yang merasa dirinya ikhlas dan sabar, pasti akan diuji kesabaran dan keikhlasannnya itu. Kita yang merasa pemaaf pasti diuji dengan masalah yang menyinggung perasaan kita, sampai sepelik-peliknya. Bahkan seorang motivator pun, pasti akan lebih banyak diuji lagi dengan hal-hal yang melemahkan, didera dengan sentilan-sentilan dari Yang Maha Kuasa.
Menonton film, selain melihat ceritanya, juga kajilah latar belakang pelakonnya. Film itu hanya sekadar industri penuh syahwat dan ambisi jika pelakonnya tidak mencerminkan perilakunya pada hidup senyatanya. Bagaimana film religi cinta -saya sebut seperti itu-, seperti halnya KCB dan ayat-ayat cinta? Hampir sama juga. Kalau peran di film si artis begitu penyayang, sabar, jujur, dan menjaga pandangan dari syahwat-aurat, benarkah dengan kenyataan kesehariannya?
Jadi, apakah persoalan impian/harapan dengan kenyataan mesti dipisahkan? Tentu tidak, karena harapan itu benar-benar diharapkan supaya terwujud menjadi bukti nyata, boleh saya sebut perlu koherensi dan sinergestik. Usai menonton, lalu berkomentar bahwa film itu penuh hikmah, dan dibumbui kata bahwa si pelakon itu ganteng atau cantik sekali, jilbabnya indah, senyumnya manis, dan bla bla bla, bukankah nafsu syahwat dengan nafsu mutmainah itu sudah beda-beda tipis! Usai menonton lalu mencari sasaran tembak si dia manakah yang karakternya mirip peran seperti yang dimainkan dalam film, begitukah mestinya?!
Tak perlu terlalu banyak menonton film atau membaca buku, jika tak ada kritisi, tak ada perubahan perilaku, tak ada perbaikan. Bukankah Menonton film amat sering terjebak pada keasyikan menikmati alur cerita syahdu, lalu menjelang the end ada adegan penuh kebahagiaan. Itulah bedanya dengan kenyataan. Terlalu sering menonton film, hanya akan penuh pengandaian dan jikalau, andai saja, bilamana, umpama, dan misalkan.
Menonton dengan hati dan logika, akan membangkitkan asa lama yang mungkin terpendam. Menonton dengan hati memancing semangat yang sempat jatuh dan terombang-ambing dalam deburan ombak kealpaan. Cinta yang sempat patah dan terkoyak duri menjadi pulih bersambung penuh “kehangatan”. Berapa banyak orang makin dalam terperosok pada lubang kehinaan karena film religi cinta diejawantahkan dalam pergaulan anak muda yang kebablasan.
Ketika Cinta Bertasbih menjadi perantara luluhnya keras hati menjadi teduh, mendorong ikhwan-ukhti ingin bersatu dalam mahligai yang syar’i dan halal sehalal-halalnya. Alloh mencubit hati ini, dengan tampilan yang mengesankan, menjadikan pelajaran dan ladang amal. Tak salah kemudian berandai-andai, namun show must go on!
Saya jadi ingat kata-kata sejuta makna “Aku tak tahu, dan aku pun tak mau tahu, yang ku tahu -aku hanya butuh cinta dan sejumput bahagia!”…ha ha saya sedang “gila”.

2 komentar:
assalamua'alaikum ka widodo.,.saya astri widiarti.sebenernya saya belum nonton KCB,tapi baca sedikit ulasan kakak mengenai fenomena KCB, saya sedikit terpancing untuk berkomentar...memang benar selama ini, yang ditampilkan dalam dunia perfilman hanyalah sesuatu yang dipoles untuk merauk keuntungan semata.namun saya rasa dengan adanya casting-casting itu merupakan salah satu usaha dari si pembuat film untuk menemukan pemain film yang tidak hanya berkepribadian baik di film saja tapi di dunia dia sehari-hari. namun apa mau di kata, karena semua itu kembali pada pribadi masing-masing individu.,.jadi memang kalau sudah bicara uang dan keuntungan, alangkah baiknya jika kita melihat film, yang kita ambil adalah maknanya...terlepas dari kita harus membandingkan dengan dunia nyata.karena biar bagaimanapun menurut saya, antara mimpi dan kenyataan tetap ada batas. dan tidak semua orang mampu menghilangkan batas itu dan mengubahnya menjadi kenyataan. itu pendapat saya, jika ada salah, namanya juga manusia. terimakasih^_^
assalamua'alaikum ka widodo.,.saya astri widiarti.sebenernya saya belum nonton KCB,tapi baca sedikit ulasan kakak mengenai fenomena KCB, saya sedikit terpancing untuk berkomentar...memang benar selama ini, yang ditampilkan dalam dunia perfilman hanyalah sesuatu yang dipoles untuk merauk keuntungan semata.namun saya rasa dengan adanya casting-casting itu merupakan salah satu usaha dari si pembuat film untuk menemukan pemain film yang tidak hanya berkepribadian baik di film saja tapi di dunia dia sehari-hari. namun apa mau di kata, karena semua itu kembali pada pribadi masing-masing individu.,.jadi memang kalau sudah bicara uang dan keuntungan, alangkah baiknya jika kita melihat film, yang kita ambil adalah maknanya...terlepas dari kita harus membandingkan dengan dunia nyata.karena biar bagaimanapun menurut saya, antara mimpi dan kenyataan tetap ada batas. dan tidak semua orang mampu menghilangkan batas itu dan mengubahnya menjadi kenyataan. itu pendapat saya, jika ada salah, namanya juga manusia. terimakasih^_^
Posting Komentar