Minggu, Mei 03, 2009

Go to the Pati (in memoriam)


Go to the Pati (in memoriam)
By widodo


Entah berapa kali saya ke tlatah Pati. Paling tidak sekali dalam sebulan saya ke sana, dan itu berlangsung sejak Januari 2008. Kepergian saya kesana tak lain adalah memenuhi kewajiban untuk berbagi ilmu kepada teman-teman guru yang berkuliah. Para guru yang usianya rata-rata di atas saya, bahkan ada yang di atas umur 50 tahun.

Setiap ke Pati, hati ini merasa senang, tentu berbagi ilmu itu sebagai suatu nilai ibadah kita. Kalau selalu menghitung honor, jelas tidak cukup. Apalagi, dengan intensitas kedatangan yang tidak sering. Nah, saya jadi ingat filosofi berilmu seperti kata Raden Mas Sosrokartono, “weweh tanpo kelangan”, memberi tanpa kehilangan. Itulah berbagi ilmu.

Karena waktu mengajar jam 13.30, saya berangkat dari Semarang jam 8 pagi. Dengan naik bus Minas Gunungpati-Terboyo, jam 9 atau lebih sedikit sudah sampai di Terboyo. Berdesak-desakan di bus, hampir pasti dialami tiap perjalanan. Yang paling tidak kepenak bila melewati jalan di belakang pasar Johar, tidak tahu persis apa nama jalannya.

Dari Johar melewati jalan aspal berlubang, kalau sedang musim hujan, banjir itu sudah langganan yang benar-benar biasa. Nah, akibatnya perjalanan jadi molor sedikit. Jalan-jalan ketika pagi pun sudah penuh debu beterbangan, sumuk, kemringet, dan jadi cepet capek.

Dari Semarang, saya tak langsung naik bus jurusan Pati, tapi melalui Jepara. Ini di lakukan karena lebih dekat, lokasi yang saya datangi adalah Sirahan Cluwak Pati, memang relatif lebih dekat bila lewat jepara.

Di bus tujuan Jepara, saya masih kebagian kursi. Bus-bus ini dilengkapi fasilitas tv dan vcd player, jadi ya full music. Lagu plus videonya ini didominasi lagu dangdut. Sebenarnya asyik juga, apalagi saya senang juga kalau dengar lagu yang pas di telinga, apalagi pas suasana hati. Namun, lagu yang diputar dimonopoli oleh lagu dangdut yang di-koplo-kan, begitu teman-teman kos bilang. Dengan ketipung yang dipukul dengan dihentak lebih kuat, menjadikan suaranya mantap (itu katanya).

Music ini menjadi hiburan tersendiri, menjadi tidak jenuh. Suasana jalan berdebu apalagi macet di sepanjang jalan Semarang Sayung (Demak), kalau ada lagu begini rasa penat jadi tidak terasa. Sayangnya, para artis dalam lagu plus video ini, pakaiannya itu lho, bikin deg deg sir. Artis berbaju anak TK yang belum jadi (bikini, atau malah pakaian renang) menjadi tontonan yang agak terpaksa harus dinikmati, yang bikin poyang-payingan goyangan artisnya itu. Lha kalau Dewi Perssik itu hujat sana sini, di cekal sana sini karena goyang gergajinya itu, wah kalau yang saya tonton ini lebih parah lagi. Wah wah…jan nggegirisi.

Sekitar 2 jam atau lebih, sampailah di terminal Jepara. Kota ukir yang juga punya pelabuhan ini, memang masih asri, perkotaannya di sepanjang jalan banyak pepohonan peneduh, jadi adem. Turun di terminal, para tukang becak dan kernet bus berebutan menawarkan tumpangannya. Karena sudah mantap mau pergi kemana, tentu saya menolak dengan halus, bahwa saya mau ke Pati dan di situ busnya sudah menunggu. Dari Semarang berangkat pagi, dan seperti biasa sebagai insan yang belum sarapan, saya sempatkan beli gorengan dulu. Nah, ini ada yang pas dengan selera anak singkong, 1 mendoan plus 2 ubi goreng sudah cukup menemani perjalanan. Makan ubi goreng jadi ingat rumah, ingat mamak, ingat mbakyu saya yang kadang membuatkan klenyem (parutan ubi dicampur parutan kelapa lalu dibuat bulatan, ditengahnya diberi gula jawa lalu digoreng).

Sampai di terminal Bangsri Jepara, bus ngetem 10an menit, saya sempatkan cari warung untuk beli nasi bungkus. Nasi gudeg, telur, tempe goring, plus es tes sudah maknyus. Kalau bus agak longgar, nasi bungkus saya nikmati di bus, tapi kalau ramai apalagi bocah-bocah sekolah pas jam pulang, hajat ini ditunda dulu.

Biasanya sampai di Cluwak Pati jam 13.00, saya turun di Masjid Jami Sirahan. Sholat dhuhur dan setelah itu sambil melepas lelah saya baca kembali beberapa lembar bahan pengantar kuliah. Pengajar juga perlu belajar, mengkaji kembali agar lebih siap tanding dalam mengajar, agar tidak dikalahkan oleh mahasiswanya yang sebenarnya lebih senior…hehehe.

Jam 13.25 saya meluncur ke sekolahan (MA Darul Falah Sirahan), di sanalah kuliah berlangsung mulai jam 13.30 (kalau menurut jadwal). Para mahasiswa yang rata-rata sudah mengajar sejak pagi sulit juga datang tepat waktu jam setengah 2. Sehingga diputuskan, kuliah mulai jam 2. Ada waktu setengah jam saatnya menikmati nasi bungkus. Adakalanya pengelola kuliah menyiapkan nasi bungkus juga, kalau snack selalu ada.

Setelah cas cis cus sampai jam 4-an sore atau lebih seperempat, kuliah hari itu usai. Jam sekian itu tidak memungkinkan saya kembali kembali ke Semarang, menginap dulu di rumah teman seorang Kepala Madrasah Aliyah di sana. Bila esok harinya saya tidak ada jam mengajar, maka esok pagi jam 7-an saya sudah berangkat ke Semarang.

Inilah sedikit kisah, salah satu bagian dari cekelumit perjalanan hidup. Menapaki hari-hari itu terasa mudah, namun tak jarang juga penuh kesulitan. Pun hidup tak hanya soal mudah-sulit, lebih dari itu. Bila pemikiran ini bisa berguna, bukankah kita juga merasa bermanfaat bagi orang lain, diri ini bukan hanya insan pemenuh isi dunia.

.

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!