
Menembus Alas Jati Randudongkal, Rasa Hati Benar-benar Klop
By wid
Sabtu, 25 April, berkemas dan segera menunggangi “kuda besi” menembus jalan raya Semarang-Jakarta, kali ini saya ke daerah Ngapak-ngapak alias Tegal. Ditemani kawan satu perjuangan di kos K-Q, si Dana (Arjuno Ireng). Perjalanan kali ini terasa lebih mantap, perasaan tak ada yang kurang atau tertinggal.
Menjelang Isya, di kawasan Randudongkal Pemalang, ada pemandangan yang hampir sama seperti ketika melewati Alas Roban Batang. Kanan kiri berjejer pohon jati yang beriring ke selatan mengarah ke Moga Pemalang. Hawanya semakin dingin, karena jalur itu terus saja menuju dan menyisir pegunungan. Dinginnya menusuk tulang, hingga kaki serasa “keju” kejang. Beruntung Arjuno Ireng yang menyetir di depan, sehingga dingin itu tidak menyergap ke jantung saya (terima kasih Arjuno).
Nampaknya hujan gerimis baru saja usai, jalan masih agak basah dan kegelapan di rerumputan menjadi teman perjalanan. Sekitar di kawasan Moga Pemalang, tak henti-hentinya saya berucap “Subhanallah”. Di sisi kiri kami, tegak menjulang namun lamat-lamat terlihat, Gunung Slamet. Gunung Slamet yang sedang bermain dengan kepulan lava pijarnya. Merah muda, seperti hembusan asap rokok menyala memecah kegelapan.
Memang, sekitar satu minggu ini, selain soal koalisi parpol dan soal pencapresan, berita Status Siaga Gunung Slamet sedang diperbincangkan di berbagai media massa. Tak berhenti saya menoleh ke kiri, sesekali kaget karena jalan menuju Bumijawa Tegal itu naik turun, berkelok berlurah dan berbukit. Deg deg sir…ketika gelapnya jalan, tiba-tiba ada motor atau mobil sudah muncul dan menyorotkan lampunya memecah kesunyian. Kali ini benar-benar si Arjuno Ireng harus konsentrasi.
Ada yang tak tertinggal dari kesan ketika tinggal di dekat pegunungan yang terjaga hutannya. Jalan yang sebenarnya mengekori gunung ini sudah beraspal, seandainya tak ada objek wisata Air Panas Guci Tegal, mungkin saja aspal itu belum sampai ke sini. Dan meski tak hujan, air begitu melimpah, air yang seperti tak ada habisnya. Beda sekali dengan ketika di Semarang, kadang air PDAM tak mengalir selama seminggu, atau air dikosan yang mampet ketika kemarau menghadang. Inilah bedanya.
Menginap semalam di Bumijawa Tegal, di rumah keluarga yang baik hati (terima kasih atas sambutannya, Rifqi dan Rena jangan lupa belajar!). Paginya 26/4 minggu, ketika menyaksikan pertama kali fajar menyingsing, subhanallah luar biasa. Di depan perumahan ternyata pegunungan jaraknya tak lebih dari 50 meter. Langsung menyaksikan Gunung Slamet bertengger dengan kokohnya, menjulang menantang langit. Sayang sekali, hari itu tak memungkinkan acara ke Objek Wisata Guci. Jam 12.45 kami sudah mesti berpacu dengan waktu menuju ke Moga Pemalang. Teman kami dalam perjuangannya sebagai sesama pramuka sedang melangsungkan hajatan hidup baru, menikah. Kak Lois Yulianto (Ketua Racana Diponegoro Undip 2005) bersanding dengan Kak Elfa Mawadati (ketua Racana Subiadinata IKIP PGRI Smg 2005).
Lengkap sekali hari ini, 2 orang mantan punggawa kepramukaan perguruan tinggi semarang (pada masanya) sedang mengikatkan janji untuk bersetia dalam hidup. Suasana menjadi tambah semarak, kedatangan saya begitu tepat karena barisan pramuka IKIP PGRI Semarang dan Undip telah hadir lebih dulu. Tajuk hajatan yang diberi judul “BBM: benar-benar mantenan” ini benar-benar nyata, serba klop, serba pantes. Saya memohonkan doa untuk kakak berdua, saya memberi restu. Pesan saya “wujudkan siaga-siaga baru yang berkualitas!”, sekali pramuka tetap pramuka”.
Sang mempelai tak mau kalah memberi pesan khusus buat saya, “Kapan nih Kak Wid menyusul, segera ya…!”, mmm hehe saya jadi sir-siran dihati, mmm… nunggu musim kali’ ya hehe… Sudahlah itu nanti, saya dan Arjuno Ireng mesti segera menerjang hutan jati Randudongkal kembali untuk kemudian menuju Semarang hari itu juga.
Sebelum melanjutkan derap kaki (maksudnya derap ban motorcycle), saya sempatkan bertanya seorang warga di Moga, “Gaimana Mas balapannya?”. Sayang sekali, Moto GP di Motegi Jepang harus berakhir dengan Rosi sebagai juara kedua bukan juara pertama. Tak apalah, masih dapat juara.
Hari itu banyak doa yang saya panjatkan. Hari ini, rasa hati ini “berjaga” ketika seorang “teman” di Unsoed Puwokerto sedang menahan rasa sakit (semoga lekas sembuh). Memory Semarang-Tegal-Pemalang tak terlupakan…didadaku ada senyumku. Ayo, show must go on!
.

2 komentar:
jembatannya itu di daerah mana mas?
Jembatannya di daerah mna itu bro. Aq gk pernag liyat yah
Posting Komentar