.
Universitas atau lembaga pendidikan tinggi adalah satu-satunya lembaga di negeri ini yang hampir-hampir menyelenggarakan pendidikan tanpa banyak dicampuri oleh pemerintah, apalagi dengan adanya Badan Hukum Pendidikan Milik Negara (BHPMN). Ada beberapa universitas atau institut yang telah berstatus BHPMN, seperti UI, UGM, dan ITB. Dengan keleluasaan ini, lembaga ini harus berkembang pesat dan maju untuk mewujudkan pendidikan yang bermartabat dan berkualitas.
Lembaga pendidikan tinggi, khususnya universitas seharusnya sebagai lembaga yang benar-benar berani untuk melakukan perubahan, bahkan tidak perlu ragu untuk melakukan kritisi terhadap kebijakan pemerintah di luar aspek pendidikan. Selama ini yang sering terjadi, pelopor ide dan kritisi ini lebih banyak dilakukan oleh mahasiswa. Sedangkan dari para pengelola pendidikan , termasuk pemimpin lembaga (rektor, direktur, dsb.) lebih banyak diam dengan kebijakan yang ada. Pimpinan lembaga seakan enggan karena takut di stop dana subsidi lembaganya atau dicopot dari jabatannya. Kalaupun ada yang mengkritik kebijakan pemerintah, itu tidak lebih dari upaya bergerombol melalui wahana Forum Rektor Indonesia. Sangat jarang ditemukan, pimpinan perguruan tinggi secara mandiri dan berani untuk mempertanyakan kebijakan pemerintah.
Matinya ide universitas atau lembaga tinggi lainnya dapat dimaknai sebagai kondisi diamnya universitas dengan fakta yang ada bahwa ada sesuatu yang salah di dalam ranah kehidupan bermsyarakat, berbangsa, dan bernegara. Universitas terlalu sibuk dnegan mengurusi urusan lembaganya sendiri, menyangkut pembangunan sarana dan perbaikan akademik. Sedangkan kepekaan/iritabilitas keadaan sosial masyarakat masih belum menggema. Bahkan, saya berani berpendapat lebih ekstrim, keberadaan universitas tertentu tidak lebih hanya merupakan proyek yang berbau duit.
Miskinnya atau bahkan matinya ide ini tampak dari sepak terjang dosen-dosen perguruan tinggi tersebut. Malasnya dosen melakukan penelitian, terjadi karena sibuk dengan hal-hal yang sifatnya materiil. Seperti, mengajar di berbagai perguruan tinggi karena bayaran tinggi alias banyak duit. Kalaupun ada dosen yang sibuk penelitian, saya melihat bahwa mereka banyak diantaranya yang berorientasi proyek berdana besar. Apalagi bagi mereka yang sudah memiliki “nama” dan “ahli” penelitian, bukanlah hal mudah untuk menggolkan proposal penelitian.
Dilihat dari sisi mahasiswa, kritisisme mahasiswa sudah makin banyak tercampuri oleh anarkisme gaya ayam. Hal ini berarti, mereka menyuarakan kritik kebijakan kepada pihak-pihak tertentu dengan label pembelaan rakyat kecil, namun ketika tuntutan tak mendapat sambutan, maka yang terjadi adalah amuk massa, perusakan fasilitas umum milik negara, dana pelecehan simbol-simbol bangsa. Mahasiswa yang dituntut peka terhadap masalah sosial, justru merusak kehidupan sosial. Perilaku ini lebih kejam daripada mereka yang sibuk kuliah dan diam saja (tidak ikut berunjuk rasa).
Banyak universitas disinyalir hanya pencetak pengangguran, karena kuliah dan penyelenggaraan pendidikan di dalamnya sangat “tidak bermakna”. Mahasiswa tidak diajak untuk menyelami dalamnya masalah masyarakat. Bagaimana menuntaskan masalah kemiskinan, bagaimana memenuhi kebutuhan perut? Hal-hal ini hanya didemonstrasikan, bukan dipecahkan secara lansgung oleh mahasiswa. Kalau toh ada program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kenyataannya program ini hanya merupakan proyek balas budi dan objek menuntaskan program buta aksara yang akhir-akhir ini digencarkan, bukan lagi inisiatif mahasiswa untuk menyelasikan masalah lain yang lebih bersentuhan dengan pemenuhan kebutuhan hidup.
Selasa, Mei 27, 2008
Matinya Ide Universitas!
Labels:
Artikel Pendidikan
Rindu pendidikan bermartabat&Merdeka. Kepramukaan adalah jalanku, sepanjang hayat. Kelahiran Wonogiri, 7 April 1984. SDN 56 Pangkal Pinang, SMPN 2 Jatipurno Wonogiri, SMAN 1 Jatisrono Wonogiri, S1 Kurtekdik Unnes, S2 Kurikulum&Teknologi Pembelajaran 2010, S3 Manajemen Kependidikan 2025. Sebaik-baiknya insan adalah yang bermanfaat bagi sesamanya;. per Oktober 2022 guru SMA N 13 Semarang menikah dengan Sri Edy Nugroho Wati (7 Nov 2010). Putra kami:Darma Brotosejati (22 Des/2011; Damaris Amrina Rosyada (5 Agust2015); Jannur Damarjati (18 Mar2018).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
DARI MASA KE MASA
DOAKU
Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Atur Pembuka

Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar