Oleh Widodo*
Tantangan
pertama yang menghambat adalah kesenjangan ekonomi dan sosial (Zamjani, 2024). Kondisi gizi,
kesehatan, dan tekanan ekonomi peserta didik berperan besar dalam kemampuan
mereka mengikuti pembelajaran mendalam. Ibarat membangun menara di atas fondasi
pasir, fokus pada Higher Order Thinking
Skills (HOTS) hanya akan berhasil jika kebutuhan dasar murid terpenuhi
terlebih dahulu (Ika Sari et al., 2024). Meskipun
pemerintah telah berupaya mengatasi masalah ini melalui program Makan Bergizi
Gratis (MBG), inisiatif ini sering kali menghadapi
masalah logistik, anggaran dana yang masif, bahkan kasus
keracunan di beberapa daerah, yang
menunjukkan bahwa pembangunan fondasi kesejahteraan terpadu masih jauh dari
sempurna.
Kedua,
ada isu krusial mengenai kesiapan dan kesejahteraan guru. Guru merupakan kunci
keberhasilan Deep Learning; mereka
harus kreatif, termotivasi, dan mampu berinovasi. Namun, tanpa kesejahteraan
dan pelatihan memadai, guru cenderung kembali ke metode pembelajaran
tradisional yang bersifat hafalan (Surface
Learning). Kondisi guru dianalogikan seperti mesin yang kering pelumasnya
jika tidak dibekali dukungan yang cukup (Mason Englewood, 2025). Walaupun
program pelatihan guru seputar Pembelajaran Mendalam (DL) sudah dilakukan,
pelatihan tersebut seringkali menghadapi masalah implementasi di lapangan dan
kurangnya keberlanjutan (Doug Liles, 2025). Belum lagi, biaya
pelatihan ini sebesar 2-3 juta per orang, yang diambil
dari dana BOS, maka tak sedikit mempertanyakan efisiensinya. Demikian
pula, meskipun ada upaya menyejahterakan guru, masalah beban administratif yang
tinggi seringkali menghambat guru untuk fokus pada inovasi pembelajaran. Coba kita
refleksi, adakah tugas administratif yang berkurang setelah pendekatan deep learning ini dipakai di semua
sekolah dibanding sebelum kebijakan ini berlaku? Atau kita sibuk ikut workshop, dari pelatihan satu ke
pelatihan lain, yang topiknya hampir sama, tapi produknya berbeda bergantung
selera pematerinya.
Terakhir,
kendala terletak pada sistem dan infrastruktur pendidikan. Kurikulum yang
terlalu padat dan aturan sekolah yang kaku menghambat praktik pembelajaran
kreatif dan mandiri (Askari et al., 2024). Deep learning ini angin segar, jika guru
mau menerapkan. Apakah dikira sebelum mendikdasmen yang sekarang ini kita belum
“mendalam”? belum enjoyfull learning?
Coba cermati lagi berapa mata pelajaran di sekolah, adakah mempertimbangkan aspek
esensial, atau kita masih ingin menguasai semua ilmu, ada
koding dan kecerdasan artifisial, lalu kabarnya mau ada pelajaran bahasa
Portugis. Memangnya berapa jam kita di sekolah (baca: gedung
sekolah), bukankah kita akan terjebak lagi ke hafalan karena kurikulum yang
padat dan berorientasi teori, sehingga murid dan guru kehilangan ruang untuk
berpikir kritis, bereksperimen, dan memahami makna belajar yang sesungguhnya.
Akibatnya, sekolah melahirkan lulusan yang unggul di skor, tapi lemah dalam
keterampilan praktis, kreativitas, dan pemecahan masalah. Untuk memperbaikinya,
kurikulum harus disederhanakan, berfokus pada konsep inti, serta memberi ruang
bagi pembelajaran yang interaktif, mendalam, dan relevan agar pendidikan
benar-benar menyiapkan generasi yang adaptif dan berdaya saing di dunia nyata. Penelitian
menunjukkan bahwa perlunya pelatihan berkelanjutan, data imbalance, dan keterbatasan fasilitas menjadi hambatan utama dalam
adaptasi Deep Learning secara optimal
(Mason Englewood, 2025). Selain itu,
kesenjangan akses teknologi di wilayah terpencil membuat penerapan Deep Learning tidak merata.
Autokritik
ini mendorong perlunya solusi radikal untuk mengakselerasi Deep Learning. Pembangunan fondasi kesejahteraan terpadu, seperti
investasi pada kesehatan dan kondisi psikologis murid, menjadi langkah awal
krusial agar pembelajaran HOTS dapat berjalan efektif. Kemudian, reformasi
profesionalitas dan kesejahteraan guru harus dilakukan
dengan menyediakan pelatihan masif dan berkelanjutan, diikuti dengan kenaikan
kesejahteraan dan pengurangan beban administratif. Selanjutnya, perlu ada
revisi kurikulum dan kebijakan sekolah untuk menyederhanakan materi, memberi
ruang pada pemahaman konsep ketimbang hafalan, dan melibatkan murid dalam
menyusun aturan untuk menciptakan suasana pembelajaran mandiri. Akhirnya,
pengembangan infrastruktur teknologi merata adalah kunci agar semua murid dan
guru dapat mengakses sumber belajar berbasis teknologi dan AI, selaras dengan
visi Deep Learning sebagai
pembelajaran personal.
Tanpa
fondasi yang kuat pada aspek sosial dan kesiapan guru serta sistem, Deep Learning berisiko menjadi hanya
jargon tanpa hasil nyata. Dengan solusi radikal yang mengintegrasikan
kesejahteraan sosial, reformasi profesional guru, revisi kebijakan, dan
pemerataan teknologi, janji Deep Learning
dapat terwujud menjadi peningkatan mutu pendidikan yang nyata dan merata di
Indonesia.
Askari, F., Javadipour, M., Hakimzadeh,
R., & Salehi, K. (2024). Identifying the Dimensions and Characteristics of
Overloaded Curriculum in the Primary Education. Journal of Research in
Educational Systems, 17(63), 34–48.
https://doi.org/10.22034/JIERA.2024.420665.3058
Doug
Liles. (2025). Expert Insights: Overcoming Challenges in Deep Learning
Education.
https://dlearnai.com/blog/expert-insights--overcoming-challenges-in-deep-learning-education
Ika
Sari, G., Winasis, S., Pratiwi, I., Wildan Nuryanto, U., & Basrowi. (2024).
Strengthening digital literacy in Indonesia: Collaboration, innovation, and
sustainability education. Social Sciences and Humanities Open, 10(May),
101100. https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2024.101100
Mason
Englewood. (2025). Deep learning in indonesian education: Transforming
learning landscapes.
https://www.byteplus.com/en/topic/423013?title=deep-learning-in-indonesian-education-transforming-learning-landscapes
Zamjani,
I. (2024). Indonesia’s Challenges in Tech and Learning Equity for Teachers.
Pskp.
https://pskp.kemdikbud.go.id/gagasan/detail/indonesias-challenges-in-tech-and-learning-equity-for-teachers
Doktor Manajemen Kependidikan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar