Coaching berhubungan erat dengan Sistem among yang dikemukakan KHD. Akan sangat bermakna apabila coach adalah role model bagi bagi coacheenya, kepada murid, rekan sejawat bahkan kepada keluarganya. Coach menjadi jembatan penemuan dan pembangkitan potensi coachee. Kesadaran akan potensi dan “karakteristik” tiap individu serta memberikan dukungan dan feedback konstruktif untuk membantu coachee memperbaiki kinerja mereka dan mencapai tujuan mereka, ini sejalan dengan filosofi pendidikan yang memerdekakan.
Meski coaching bukan hal baru,
karena kami pernah menjadi pengajar praktik (PP) pada PGP angkatan 4,
pengalaman berbeda sungguh kami alami. Peran sebagai CGP lebih sering melakukan
coaching kepada rekan sejawat dan murid.
Belajar coaching bukan saja
membantu coachee, lebih dari itu, sesungguhnya membantu saya untuk menggali
potensi yang saya miliki. Ketika memberikan umpan balik yang bermakna, ini juga
serasa memberikan umpan balik pada diri sendiri. Selalu berusaha memotivasi
diri sendiri, sehingga perubahan positif mengalir terjadi dalam proses
bersosialisasi di sekolah maupun luar sekolah. Kami sudah menjauhi asumsi,
judgement, termasuk mengerem “menatar” coachee.
Alur TIRTA kadang terlewat,
terbolak balik, kami butuh jam terbang untuk semakin matang. Alur coaching yang
terstruktur mudah dilakukan jika kita terus berproses, sering melakukan
coaching.
Tentu masih ada yang perlu diperbaiki.
Menjadi pendengar yang fokus, menemukan kata kunci dan menambah perbendaharaan pertanyaan
berbobot, itu semua yang harus terus dikuatkan.
Sebagai coach, kita dapat
membantu murid dalam memahami gaya belajar mereka sendiri, mengembangkan
keterampilan belajar yang efektif, dan mencapai potensi belajar yang optimal. Tentunya
juga dapat membantu murid dalam mengidentifikasi kekuatan mereka dan membangun
rasa percaya diri yang positif, sehingga murid dapat merasa lebih termotivasi
dan berhasil dalam pembelajaran dan kehidupan mereka.
Kita menghadapi tantangan bersama
rekan sejawat, PSE ini bagi sebagian guru masih berkesan memanjakan, sebagian
lain melihat program ini juga akan “layu”seperti halnya nasib kurikulum yang
lain. Jadi, memang selalu ada pesimisme di kalangan rekan sejawat. Tak semua
orang mau keluar dari zona nyaman, karena merasa sudah aman, mapan, dan nyaman.
Bagaimana dengan supervisi? Ya selama
ini, supervisi baru sebatas kepentingan administrasi tahunan, meskipun ada juga
rekan-rekan yang melihat supervisi adalah sarana memperbaiki, ini yang masih
perlu penguatan. Setelah mengikuti modul 2 ini, maka jika saya diberi kesempatan
untuk melakukan supervisi, saya akan fokus pada kekuatan dan potensi yang saya
miliki sekaligus “menguatkan” guru yang disupervisi. Saya akan mengajukan
pertanyaan reflektif yang membantu guru untuk mengeksplorasi dan mengelaborasi
gagasan mereka sendiri dan mencapai solusi yang berbasis pada gagasan mandiri.
Berkaitan dengan pembelajaran
berdiferensiasi, saya mencoba mengenal setiap murid secara pribadi dengan
memperhatikan keunikan mereka dalam hal kekuatan, minat, dan tantangan yang
dihadapi. Saya mencoba mengolah “menu belajar” dengan konten, proses, dan
produk yang variatif serta memerhatikan aspirasi murid kami. Kelas yang nyaman
adalah dambaan, maka apreasi pada capaian kerja murid dan mengembangkan empati
adalah penguatan KSE yang berbobot.
Selanjutnya, mari berproses
dengan modul berikutnya, modul 3. Kami harus memunculkan dan mengembangkan
program belajar, program sekolah yang menjangkau segala aspek pendidikan dan
kebutuhan murid.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar