
Oleh: Sandra Novita Sari
Siapa bilang merokok dapat meningkatkan konsentrasi ? Alasan klise para pecandu rokok yang mengatakan rokok dapat mendatangkan berbagai inspirasi dan ide cemerlang itu terbantahkan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Amerika Serikat menyebutkan hal sebaliknya. Zat nikotin yang terkandung dalam rokok justru memyebabkan degradasi atau setidaknya berpotensi menurunkan tingkat perhatian dan konsentrasi para perokok aktif maupun pasif.
Sejumlah peneliti yang dipimpin Leslie Jacobson menemukan fakta bahwa remaja perokok yang juga terkena racun nikotin saat masih berada dalam kandungan menunjukan penurunan yang signifikan pada kemmpuan memperhatikan dan konsentrasi yang berkaitan dengan terganggunya penglihatan dan pendengaran mereka.
Penurunan tingkat perhatian dan konsentrasi akibat nikotin ini juga berpengaruh pada pria dan wanita meski dengan cara yang berbeda. Pada wanita misalnya, wanita perokok dengan kandungan nikotin yang tinggi berpotensi mengalami gangguan pada kesehatan rahim. Sementara pada pria zat nikotin berpengaruh pada pendengaran. Perbedaan pengaruh nikotin pada pria dan wanita sangat tergantung pada kerja nikotin terhadap produksi hormon.
Bila suatu penelitian membuktikan adanya penurunan kemampuan konsentrasi akibat pengaruh nikotin, lalu mengapa para pecandu rokok meyakini bahwa rokok dapat meningkatkan kemampuan berpikir?
Menurut para ahli, nikotin bekerja dengan meningkatkan daya pacu jantung sehingga para perokok merasa lebih bersemangat. Selain itu, nikotin juga memacu produksi salah satu zat kimia yang terdapat pada otak yang disebut dopamine, zat ini berfungsi melegakan pikiran dan menenagkan. Meski demikian dalam jangka panjang nikotin justru mengurangi kemampuan otak.
Efek dopamine secara tak langsung adalah merangsang perokok untuk merokok lebih banyak lagi agar dapat merasakan efek yang serupa.
Jika kebutuhan rokok tidak dipenuhi, maka akan timbul perasaan depresi dan kelelahan yang disebabkan menurunnya kemampuan untuk merespon dopamine tersebut. Inilah fase kecanduan pada perokok.
Jadi untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan adanya langkah-langkah konkret semacam seminar dan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka mengetahui bahwa dibalik kenikmatan yang diberikan rokok, ada bahaya besar yang mengancam keselamatan jiwa.
_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNNES

Tidak ada komentar:
Posting Komentar