Saya memang tidak ambil peduli dengan kelahiran sekolah internasional, entah sekolah yang bertaraf internasional beneran atau hanya mengaku-aku saja.
Toh, pertanyaan besar saya, sebenarnya terjawabkah persoalan peningkatan sumber daya manusia dengan kelahiran sekolah internasional, sekolah berstandar nasional, atau sekolah-sekolah super internasional?
Kita ini nampaknya terjebak pada feodalisme gaya baru yaitu terperangkap pada angka statistik, terkungkung pada tradisi peringkat indeks sumber daya manusia se-asia tenggara, se-asia, se-dunia/internasional.
Setiap ada seminar pendidikan, para pembicara sering bermain angka statistik namun hampir semuanya menunjukkan hal-hal minus dalam kancah pendidikan kita. Seolah-olah angka itu menjadi harga mati untuk menunjukkan kualitas diri kita, kualitas manusia Indonesia. Bahwa 10 orang berprestasi belum dapat mewakili kualitas populasi yang besar, 222 juta manusia.
Maka, tak kaget bila menemukan bahwa sekalipun ada teori multiple intelligence, buktinya ujian nasional ini menjadi “senjata ampuh” untuk meneguhkan seorang siswa lulus atau paripurna dalam studinya di sekolah. Artinya, teori kecerdasan itu hanya aktif diatas kertas, namun pasif di dalam praktek.
Kearifan kita susut, menyusut surut bak air sumur yang kadang banyak di musim hujan, sedikit di musim kemarau, ketika hujan turun menjadi keruh. Lihatlah anak-anak di sekitar kita, betapa diantara anak-anak itu tak dapat bersikap positif. Lebih banyak mengeluh karena panas, mengeluh karena tak bisa, mengeluh karena kotor. Anak-anak yang bersekolah di sekolah favorit, yang bisa-bisanya bermanis-manis muka menghadapi guru dan para tamu di sekolahan mereka, namun tak santun di jalan raya, tak cerdas mengantri menunggu bis kota, gonta-ganti telepon seluler sebagaimana trend yang ada.
Berbagai kegiatan bakti yang diadakan sekolah, seperti menjadi momentum tahunan atau kegiatan rutin yang berangkat dari gagasan pengelola sekolah, demi apa? Katanya demi melatihkan anak supaya peka sosial. Sependapat juga dengan langkah ini, namun sekali lagi kita terjebak pada upaya seremonial karena kegiatan bakti sosial-kemasyarakatan itu dikembangkan oleh sekolah, bukan oleh anak. Anak-anak menjadi pelaksana dan perencana namun tak berinisiatif untuk mengadakan sesuatu itu menjadi mendarah daging hingga mereka benar-benar tampil di masyarakat.
Orangtua yang mengelu-elukan keberhasilan prestasi anak di sekolah, selalu berpatokan pada prestasi akademik dan rangking kejuaran. Namun, terlupa bagaimana mendidikkan tepo saliro dan mawas diri, sehingga mereka membiarkan anak-anaknya menikmati indahnya pertemanan yang berkembang menjadi pacaran, dan akhirnya pergaulan bebas.
Teman-teman kita yang terjun di kegiatan ekstrakurikuler sekalipun, termasuk mereka yang menjadi pramuka ataukah kegiatan lainnya, menjadi sama latahnya dengan yang mengaku pramuka gaul. Betapa senang hati saya, tatkala menyaksikan mereka berseragam pramuka, yang muslim berjilbab ketika dalam acara formal. Namun batin saya sontak menjadi sakit, miris merana, melihat mereka bergandengan tangan dengan mesra di ujung lorong atau di pojok ruang sepi malam. Betapa berontak diri ini, melihat mereka menanggalkan jilbabnya berganti tank top mirip bikini dan bermanis manja. Beginikah hasil pendidikan kita (termasuk pendidikan kepramukaan). Apakah kepramukaan hanya menjadi rutinitas daripada tak ada aktivitas? Ah saya mengeluh.
Betapapun demikian, saya tidak ingkar, masih banyak orang yang peduli pada pendidikan ini. Guru-guru di tempat terpencil yang mengorbankan banyak kesenangan hidup demi mendidik anak-anak sekalipun di kampung yang menuju sekolah harus naik bukit, mengitari jalan setapak penuh belukar, tersembunyi di hutan, dan melayani anak dari masyarakat yang masih sangat kaku terhadap budaya luar. Masih ada pramuka yang bervisi dan tanpa pamrih menggiatkan diri dalam aktivitas yang tak menjanjikan uang/materi. Saya menjadi saksi hidup keadaan yang demikian. Saya ingin selalu menjadi bagian dari mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar