Minggu, April 12, 2009

Sinau saka Wayang (part 2)




Sinau saka Wayang (part 2)
dening widodo


Dan malam itu Ki Anom Suroto mengambil judul Bima Maneges. Tak tahu persis apa arti etimologisnya. Dimana Bima (Werkudara/Brotoseno) setelah memperoleh pelajaran dari Dewa Ruci mantap untuk mengambil peran diri dalam peri kehidupan selanjutnya.

Ada yang berbeda malam itu. Cukup banyak mahasiswa Unnes yang hadir. Pagelaran ini diadakan guna menyambut Dirgahayu Unnes ke-44. Pada awal pementasan sekitar jam 21.30 ruang auditorium utama penuh dengan penonton, bahkan ketika naik ke balkon, ternyata hampir penuh ruangannya.

Selain masyarakat desa Sekaran Gunungpati, mahasiswa Unnes juga hadir disana dengan motif yang tentu saja berbeda; ada mahasiswa yang memang cinta seni pedalangan (wayang) sehingga hadir disini untuk belajar membabar jati diri. Tak sedikit yang datang demi mencari kesibukan malam bersama sang teman atau sang pacar (daripada tidak ngapa-ngapain).

Beberapa yang hadir bengong saja karena tidak mudheng dengan apa yang dikatakan si dalang yang memainkan beberapa tokoh wayang. Apalagi bahasa yang digunakan notabene kromo inggil (jawa halus), meski sebagian ada juga ngoko (seperti Werkudara dalam berbahasa). Jadi, kedatangan penontonnya pun sebagian tidak lebih dari pengobat kesibukan dan bukan untuk belajar. Maka sangat mahfum jika ada komentar di sana sini “opo to kuwi, ora genah, ora mudheng!”.

Bagi saya, malam itu cukup terganggu dengan suara soundsystem yang kurang jelas memperdengarkan suara dalang, ada gema di sana-sini. Sehingga lafal apa yang diucapkan menjadi kabur. Inilah resikonya menggelar wayang di dalam ruangan yang belum ada peredam suaranya. Maka, lain kali jika ingin mengadakan pagelaran sejenis sebaiknya di lapangan terbuka atau di dalam ruang yang representatif. Meski demikian, saya tetap bertahan untuk terus mencerna apa yang dikatakan tokoh wayang (melalui sang dalang).

Sekitar jam 1 dini hari Sabtu, penonton berangsur-angsur pamit undur diri keperaduannya masing-masing. Bisa jadi karena perhelatan malam itu kurang menghibur (serasa asing di telinga) atau soal kepahaman dalam mencerna pelajaran dalang. Di alam imajinasi mahasiswa mungkin ada acara dangdutan atau band-band-nan ditengah-tengah acara pagelaran wayang, tentu itu agak mustahil terjadi jika dalangnya adalah Ki Anom Suroto.

Menonton pagelaran wayang lebih cantik dan syahdu bila tak sekadar menunggu limbukan (saat limbuk dan biyung/ibu menyapa hadirin) atau goro-goro (hiburan sebagai pelengkap tontonan), akan lebih baik jika mengaji dari sekian percakapan bermutu untuk menjadi teladan (tuntunan).

Dan saya tidak beranjak dari tempat duduk meski pantat ini sudah panas seperti habis dari perjalanan jauh dengan sepeda motor. Tetap bertahan dengan keteguhan hati hingga pungkas paripurna yaitu saat Gunungan tegak ditancapkan tanda pagelaran The End. Kembali ke kos pagi itu, mendapat sangu yang luar biasa. Pelajaran bagi saya, untuk tidak hanya berilmu tetapi ngelmu dan ngamalke. Selanjutnya, ngolah rasa, olah jiwa, olah pikir, lan olah raga.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

nyuwun ngapunten mas. kula kaliyan kanca-kanca kepingen mangertosi pripun critane bima maneges menika

AKU PRAMUKA Sepanjang Hayat mengatakan...

pemahaman sederhana sy "Bima maneges" mengisahkan Werkudara/Bima "menajamkan" jatidirinya serta mencari kebahagiaan sejati. bahkan dapat dikatakan mencari sejati hidup dan kehidupan. insan yang bertanya, berawal dari keraguan "de obnibus dubitandum". saya pikir Anda pemerhati atau malah seorang Dalang, yg lebih tahu inti lakon ini.

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!