Sabtu, November 24, 2018

ANTARA KEMERDEKAAN DAN MENDIDIK DENGAN HATI

(Refleksi Hari Guru)
oleh Widodo

Akhir-akhir ini, sepertinya banyak lulusan SMA/MA/SMK berlomba-lomba menjadi guru. Hal ini tentu tidak lepas dari faktor adanya kebijakan pemerintah menaikkan gaji guru secara bertahap, dan sebagian orang mengatakan kenaikannya sungguh luar biasa. Kenaikan gaji ditambah tunjangan sertifikasi ini dipandang signifikan dalam meningkatkan taraf hidup para guru di negeri ini. Adakah yang salah jika banyak orangtua dari lulusan SLTA mendorong anaknya menjadi guru atau berkuliah mengambil program studi kependidikan? Bisa salah bisa juga tidak, hal ini bergantung dari motif yang melatarbelakanginya.
Jika menjadi guru semata-mata demi kesejahteraan diri pribadi, maka bisa dianggap bahwa latar belakang keputusan yang belum tepat. Hal ini dapat dipahami bahwa pendidikan itu sebuah proses yang kompleks, bukan sekadar mengajar, namun ia melatih dan mendidik. Sehingga, jika yang guru kejar hanya sejahtera secara ekonomi dan finansial, maka hampir dipastikan guru akan terjebak pada materialisme sempit. Penghambaan pengabdian hanya pada materi, atau faktor ada uang saja.
Namun, jika keinginan memperoleh kesejahteraan ini diimbangi dengan kinerja dan keseriusan mereka ketika menjadi mahasiswa pendidikan/calon guru dan ketika berprofesi sebagai guru, tidak diragukan lagi bahwa pendidikan di negeri ini tidak akan disia-siakan. Tiap orang berhak untuk memperoleh haknya, namun ada kalanya kita memperoleh secara langsung dari hak-hak kita tersebut. Kita mesti berbagi dengan banyak orang, bahwa rejeki yang kita miliki sebagian didaalamnya ada hak orang lain yang mesti kita tunaikan.
Dalam Peringatan Hari Guru tahun 2018 ini, adalah sebuah momentum yang tepat untuk meneguhkan niat dan jalan pengabdian kita. Mengisi kemerdekaan tidak selalu dengan perjuangan fisik. Saat ini tidak hanya memandang bahwa berjuang adalah mengangkat senjata ketika kedaulatan wilayah kita terusik. Sesuatu yang jauh lebih penting adalah memperjuangkan nasib melalui beragam profesi yang ditekuni. Dalam hal ini, sebagai contoh tukang becak yang profesional ialah tukang becak yang siap mengantar dan menjemput dengan segenap pelayanan primanya serta tidak memasang tarif yang tinggi, demikian halnya profesi lain termasuk guru. Guru yang mau mendengar, bukan hanya mau didengar oleh anak didiknya. Guru yang bertukar ilmu dan gagasan, bukan selalu menyuapi anak dengan gagasan dan rangkaian kata-kata. Guru yang siap melatih, mendidik, dan mengajar dengan kerelaan bahwa pendidikan itu penting bagi kemajuan diri, bangsa dan negara adalah guru yang telah berjuang demi kemajuan bangsa ini.
Kita tidak menutup mata, bahwa masih banyak guru-guru kita yang terlampau asyik dengan rutinitas kegiatan mengajar. Guru-guru masih sibuk menyuapi anak-anak, sehingga kadang terlampau sempit pandangan dengan mengatakan bahwa skor hasil belajar atau skor tes yang tinggi adalah wujud utama keberhasilan pendidikan. Guru benar-benar terjerumus pada hal-hal yang selalu kasat mata. Pola tingkah anak selama di sekolah dan luar sekolah bagaimanapun adalah bagian dari hal yang perlu mendapat perhatian para guru. Saat pelatihan dan diklat pra-jabatan PNS tidak jarang dijumpai para guru yang berdisiplin tinggi, namun tatkala status PNS sudah digenggaman tangan, mereka menjadi lepas kendali, dan meninggalkan etos kerja disiplin dan melayani denean hati. Guru menjadi sama saja dengan pedagang bermental preman karena ia menjual isi buku dan akan marah bila orang-orang di pasar tak mau membelinya, akhirnya ia memaksa, menekan, dan main pukul. Analogi tersebut sungguh sederhana.
Peringatan Hari Guru tahun ini menjadi titik bangkit lagi untuk berjuang sesuai dengan profesi kita, profesi guru. Menjadi guru merupakan suatu pilihan bukan kewajiban. Dengan awal sebagai pilihan, akan berimbas pada keikhlasan pengabdian. Secara teknis guru harus mau belajar dengan dinamika keguruan dan teknologi. Guru harus berusaha mencapai 4 kompetensi (pedagogis, professional, kepribadian, dan sosial). Bagi seorang guru, tidak gagap teknologi (gaptek) tidak bisa selalu dimaknai bahwa guru harus punya HP terbaru atau laptop yang bisa online internet. Berapa banyak dijumpai guru-guru yang sekadar memiliki berbagai macam alat elektronik yang canggih, namun terjerumus pada kepemilikian belaka dan mengesankan diri sebagai orang yang modern karena juga berpunya seperti yang terjadi pada banyak orang lainnya. Guru kadang lupa, bahwa teknologi itu untuk membantu mereka dan peserta didik dalam proses belajar mengajar, bukan wahana pamer dan aksi gagah-gagahan.
Betapa sedih melihat anak-anak didik di sekolah yang rajin dan memiliki hasil belajar yang cukup baik atau tinggi namun mengalami problem krisis jati diri. Para guru dan orangtua masih belum peka terhadap kondisi ini, terlalu membebaskan anak didik untuk memiliki kegiatan yang disukainya. Sepertinya mereka beranggapan bahwa nilai tes yang tinggi adalah wujud kualitas pendidikan. Anak-anak lepas kendali dalam pembebasan ini, memilih kegiatan ke pusat perbelanjaan, memiliki kendaraan bermotor dan telepon seluler model terbaru. Ujung-ujungnya anak kehilangan rasa hormat kepada guru, orangtua, dan masyarakat lain. Kepekaan yang rendah terhadap masalah sosial. Rasa memiliki dan mengasihi sesama luntur sudah karena kita sering terjebak pada berbagai kompetisi dan perlombaan yang katanya mencerdaskan anak bangsa. Bahwa kalau sudah juara itu wujud kita ini mengharumkan nama bangsa. Bukankah itu salah kaprah?
Makna pendidikan kadang tak mendapat perhatian anak-anak didik di sekolah. Peserta didik lebih sering mengerti bahwa pendidikan adalah sekolah dan bersekolah adalah mencatat rumus, kata-kata, dan menghafal isi buku. Mengapa itu terjadi? Karena anak tidak didik dengan hati, anak-anak hanya dipandang seperti gelas kosong yang dituangi air atau apa saja yang bisa masuk kedalamnya. Anak-anak sejak dini perlu diajak berdiskusi tentang makna pendidikan minimal bagi diri sendiri. Bertukar gagasan tentang tujuan mereka bersekolah, untuk apa ilmu-ilmu itu, dan bagaimana menerapkan ilmu itu untuk diri mereka dan orang banyak, serta berbagai problem dalam menghayati hidup ini.
Ayo para guru kita berbenah, nasib bangsa ini sangat ditentukan oleh pendidikan yang bermartabat! Bukan sekadar rangkaian kata-kata lucu yang mengocok perut di dalam kelas-kelas sekolah. Artikel ini tidak bermaksud menghakimi para guru, tidak selalu bicara benar dan salah, namun berbicara apa yang sesungguhnya terjadi, supaya kita memperbaiki diri. Bagi para peserta didik dan anak-anak yang bisa mencerna gagasan ini, ayo belajar untuk hidup, belajar memberi dengan hati.

Selamat Hari Guru, jadilah terpuji selalu!

* guru SMA Negeri 1 Toroh, Kab. Grobogan Jawa Tengah

Kamis, Oktober 11, 2018

MEMAKNAI SUMPAH PEMUDA


Sembilah puluh tahun silam, pemuda-pemudi Indonesia membacakan ikrar Sumpah Pemuda, yang menjadi semangat berdirinya negara Indonesia. Kini sumpah pemuda jadi agenda tahunan. Ada yang sekadar upacara bendera, hingga diisi beragam lomba, selebrasi dan pekik semangat di seantero bangsa.


Tahun ini pun nampaknya tak jauh beda. Hanya boleh dibilang ada aneka peristiwa yang menyedot massa. Melibatkan kumpulan manusia, dengan ekspresi harap harap cemas. Adapula yang ramai dengan tangis tak kunjung reda. Namun sebagian lainnya dalam jumlah lebih besar, lebih sibuk dengan hiruk pikuk persiapan pemilu yang mulai memanas. Kesemuanya memantik sensitifitas pribadi, keduanya ada kebersamaan, namun adapula persaingan.

Senin, September 24, 2018

HASIL KURIKULUM PRAGMATIS

-->oleh Widodo*
Sudah agak lama tak mendengar keramaian kabar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sekarang sudah berjalan sekitar 3 tahun, hasilnya mulai tampak dan panen dimana-mana. Kalau dulu KTSP diplesetkan dengan Kurikulum Tidak Siap Pakai, itu sudah usang, kini KTSP menjadi Kurikulum Tukang dan Senyum Palsu. Sikap skeptis ini cukup beralasan, puncak implementasi kurikulum adalah keberhasilan belajar dan keberhasilan pendidikan, KTSP tetap saja mengantarkan anak berhasil lulus ujian nasional, sayangnya perubahan perilaku peserta didik itulah yang belum signifikan terwujud. Inilah hasil yang paling kentara dari kurikulum pragmatis.
Memerhatikan perkembangan dunia ketenagakerjaan, kebutuhan tenaga kerja terdidik dan terlatih sudah pasti. Kuliah yang pragmatis -dalam arti sempit- memang bukan untuk mewujudkan insan yang berperan sebagai ilmuwan atau akademisi, sekolah dan kuliah mencetak calon tenaga kerja. Katanya, sekolah untuk mendapat kerja, dengan kerja akan mendapat uang, dengan uang kita bisa bertahan hidup, senang-senang, dan macam-macamlah, sudah itu habis perkara.
KTSP itu semangatnya sudah begitu adil, itu baru tataran teoretis. Praktiknya, berapa banyak isi kumpulan buku yang mesti dilahap untuk dihafal peserta didik, dan guru hanya menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) produksi percetakan sebagai instrumen penilaian hasil belajar. Nilai-nilai belajar dihargai dengan kuantitas, indeks prestasi tinggi juga kuantitas. Ini terjadi karena andil filsafat positivisme, semuanya harus ada terukur, dan itu berarti dilihat secara kuantitas.
Kalau benar ada perubahan (atau lebih tepatnya perbaikan), masih santer saja pakar pendidikan termasuk para praktisi dalam forum seminar dan diskusi di berbagai media masih mengecam bahwa pendidikan kita (Indonesia) tidak berkualitas dan selalu menyalahkan menterinya karena gonta-ganti kebijakan. Berapa banyak komentar muncul yang mengatakan indeks pembangunan sumber daya manusia kita masih rendah, dan kalah dari Vietnam. Rasa malu yang menjadi obrolan belaka.
Justru kritik yang jarang mengemuka ialah mempertanyakan berapa banyak anak yang berpendidikan tinggi namun sikap dan perilakunya tidak menujukkan perbaikan, bukankah ini kegagalan bersama, bukan hanya sekolah atau gurunya. Kurikulum pragmatis harus berpijak pada penekanan bahwa usai kita bersekolah, kita harus bekerja dan terus bekerja menghasilkan uang, itu sungguh naif. Bersekolah supaya kita menjadi tambah cerdas lahir dan batin, cari uang tetap dilakukan dan kesederhanaan hati adalah tujuan.
Guru kreatif bermunculan seiring dengan tuntutan profesi dan undang-undang, namun berapa banyak guru yang tidak peduli nasib anak didiknya, mereka akan kemana. Menyelesaikan materi pelajaran lalu tinggal nglanggang colong playu. Dengan begitu, masih adakah yang membutuhkan sekolah? Dalam hal ini ada benarnya kata Paulo Freire, “desschoolling”, tanpa sekolah, tidak perlu sekolah.
Jika sekolah demi pekerjaan setelah memperoleh gelar, lalu kita akan dapat uang, tentu tak perlu capek-capek bersekolah. Kita bisa berusaha wiraswasta. Kita jumpai para calon guru, tidak memiliki sense of educating, rasa mendidik. Ayo kita survey bersama bagaimana kuliah-kuliah di Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) berlangsung, iklim akademik yang dibangun bagi para calon guru. Ini seperti mata rantai yang bersambung, guru dilahirkan oleh campur tangan dosen, lalu bagaimana kurikulum pendidikan di LPTK?
LPTK juga terindikasi menjalankan kurikulum pragmatis -sempit-, LPTK bukan lagi lembaga pendidik calon guru, sekadar Lembaga Pencetak Guru. Hasilnya adalah guru-guru instan dan serba pragmatis, karena para mahasiswa juga berfilosofi bahwa mereka berkuliah untuk menjadi guru dan pengajar (sebagai profesi), bukan sebagai pendidik. Dalam konteks 4 kompetensi guru sesuai Undang-undang nomor 14 tentang Guru dan Dosen, materi kuliah yang ditekankan makin bergeser penguasaan kompetensi pedagogis menjadi sekadar usaha agar para mahasiswa menguasai kompetensi profesional/akademik. Mereka supaya hafal atau kompeten menguasai materi sesuai bidang ilmu yang ditekuni. Maka, calon guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) hanya akan menguasai isi pelajaran PKn namun tidak menguasai diri sebagai pembimbing anak, dan bukan model teladan warga negara yang baik.
Hal ini terjadi karena pembelajaran yang berlangsung mengesampingkan ilmu pedagogis, cara mendidik anak. Kompetensi pedagogis memberi andil besar bagi profesionalitas guru dan prestasi belajar anak. Kompetensi mendapat aksentuasi pada aspek penguasaan materi sebagai wujud “kegilaan” dalam pragmatisme sempit mendidik. Kita akan mencetak robot. Semangat olah rasa, olah raga, olah jiwa, dan olah pikir tinggal angan-angan. Generasi yang terbentuk via KTSP bisa jadi hanyalah generasi yang mau berbuat dan bisa mencipta, namun tidak halus budi (cipta dan karsa tanpa rasa). Generasi yang haus kuasa, dan profesi guru hanya menjadi rebutan karena sedang ada lowongan pekerjaan semata, betapa ironisnya.
Menempatkan tujuan kurikulum pragmatis sudah pasti terjadi, dalam bidang kurikulum dikenal juga istilah hidden curriculum (kurikulum tersembunyi), kurikulum yang tidak tertulis tapi bisa jadi berpengaruh 80% terhadap keberhasilan belajar. KTSP mesti sejalan dengan hidden curriculum, barulah kemaslahatan itu bisa teraih dan kemudharatan bisa dihindari. Lebih dari, langkah kongkritnya, jangan lagi isi jabatan Kepala Dinas Pendidikan dengan eks Kepala Dinas Pasar atau Kepala Dinas Kebakaran. Saran ini juga pragmatis dan terkesan agak kuno, pragmatis menuju kemanfaatan dalam kepentingan luas yang diawali dari perubahan di pemegang kebijakan pendidikan.

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!