Sabtu, November 24, 2018

ANTARA KEMERDEKAAN DAN MENDIDIK DENGAN HATI

(Refleksi Hari Guru)
oleh Widodo

Akhir-akhir ini, sepertinya banyak lulusan SMA/MA/SMK berlomba-lomba menjadi guru. Hal ini tentu tidak lepas dari faktor adanya kebijakan pemerintah menaikkan gaji guru secara bertahap, dan sebagian orang mengatakan kenaikannya sungguh luar biasa. Kenaikan gaji ditambah tunjangan sertifikasi ini dipandang signifikan dalam meningkatkan taraf hidup para guru di negeri ini. Adakah yang salah jika banyak orangtua dari lulusan SLTA mendorong anaknya menjadi guru atau berkuliah mengambil program studi kependidikan? Bisa salah bisa juga tidak, hal ini bergantung dari motif yang melatarbelakanginya.
Jika menjadi guru semata-mata demi kesejahteraan diri pribadi, maka bisa dianggap bahwa latar belakang keputusan yang belum tepat. Hal ini dapat dipahami bahwa pendidikan itu sebuah proses yang kompleks, bukan sekadar mengajar, namun ia melatih dan mendidik. Sehingga, jika yang guru kejar hanya sejahtera secara ekonomi dan finansial, maka hampir dipastikan guru akan terjebak pada materialisme sempit. Penghambaan pengabdian hanya pada materi, atau faktor ada uang saja.
Namun, jika keinginan memperoleh kesejahteraan ini diimbangi dengan kinerja dan keseriusan mereka ketika menjadi mahasiswa pendidikan/calon guru dan ketika berprofesi sebagai guru, tidak diragukan lagi bahwa pendidikan di negeri ini tidak akan disia-siakan. Tiap orang berhak untuk memperoleh haknya, namun ada kalanya kita memperoleh secara langsung dari hak-hak kita tersebut. Kita mesti berbagi dengan banyak orang, bahwa rejeki yang kita miliki sebagian didaalamnya ada hak orang lain yang mesti kita tunaikan.
Dalam Peringatan Hari Guru tahun 2018 ini, adalah sebuah momentum yang tepat untuk meneguhkan niat dan jalan pengabdian kita. Mengisi kemerdekaan tidak selalu dengan perjuangan fisik. Saat ini tidak hanya memandang bahwa berjuang adalah mengangkat senjata ketika kedaulatan wilayah kita terusik. Sesuatu yang jauh lebih penting adalah memperjuangkan nasib melalui beragam profesi yang ditekuni. Dalam hal ini, sebagai contoh tukang becak yang profesional ialah tukang becak yang siap mengantar dan menjemput dengan segenap pelayanan primanya serta tidak memasang tarif yang tinggi, demikian halnya profesi lain termasuk guru. Guru yang mau mendengar, bukan hanya mau didengar oleh anak didiknya. Guru yang bertukar ilmu dan gagasan, bukan selalu menyuapi anak dengan gagasan dan rangkaian kata-kata. Guru yang siap melatih, mendidik, dan mengajar dengan kerelaan bahwa pendidikan itu penting bagi kemajuan diri, bangsa dan negara adalah guru yang telah berjuang demi kemajuan bangsa ini.
Kita tidak menutup mata, bahwa masih banyak guru-guru kita yang terlampau asyik dengan rutinitas kegiatan mengajar. Guru-guru masih sibuk menyuapi anak-anak, sehingga kadang terlampau sempit pandangan dengan mengatakan bahwa skor hasil belajar atau skor tes yang tinggi adalah wujud utama keberhasilan pendidikan. Guru benar-benar terjerumus pada hal-hal yang selalu kasat mata. Pola tingkah anak selama di sekolah dan luar sekolah bagaimanapun adalah bagian dari hal yang perlu mendapat perhatian para guru. Saat pelatihan dan diklat pra-jabatan PNS tidak jarang dijumpai para guru yang berdisiplin tinggi, namun tatkala status PNS sudah digenggaman tangan, mereka menjadi lepas kendali, dan meninggalkan etos kerja disiplin dan melayani denean hati. Guru menjadi sama saja dengan pedagang bermental preman karena ia menjual isi buku dan akan marah bila orang-orang di pasar tak mau membelinya, akhirnya ia memaksa, menekan, dan main pukul. Analogi tersebut sungguh sederhana.
Peringatan Hari Guru tahun ini menjadi titik bangkit lagi untuk berjuang sesuai dengan profesi kita, profesi guru. Menjadi guru merupakan suatu pilihan bukan kewajiban. Dengan awal sebagai pilihan, akan berimbas pada keikhlasan pengabdian. Secara teknis guru harus mau belajar dengan dinamika keguruan dan teknologi. Guru harus berusaha mencapai 4 kompetensi (pedagogis, professional, kepribadian, dan sosial). Bagi seorang guru, tidak gagap teknologi (gaptek) tidak bisa selalu dimaknai bahwa guru harus punya HP terbaru atau laptop yang bisa online internet. Berapa banyak dijumpai guru-guru yang sekadar memiliki berbagai macam alat elektronik yang canggih, namun terjerumus pada kepemilikian belaka dan mengesankan diri sebagai orang yang modern karena juga berpunya seperti yang terjadi pada banyak orang lainnya. Guru kadang lupa, bahwa teknologi itu untuk membantu mereka dan peserta didik dalam proses belajar mengajar, bukan wahana pamer dan aksi gagah-gagahan.
Betapa sedih melihat anak-anak didik di sekolah yang rajin dan memiliki hasil belajar yang cukup baik atau tinggi namun mengalami problem krisis jati diri. Para guru dan orangtua masih belum peka terhadap kondisi ini, terlalu membebaskan anak didik untuk memiliki kegiatan yang disukainya. Sepertinya mereka beranggapan bahwa nilai tes yang tinggi adalah wujud kualitas pendidikan. Anak-anak lepas kendali dalam pembebasan ini, memilih kegiatan ke pusat perbelanjaan, memiliki kendaraan bermotor dan telepon seluler model terbaru. Ujung-ujungnya anak kehilangan rasa hormat kepada guru, orangtua, dan masyarakat lain. Kepekaan yang rendah terhadap masalah sosial. Rasa memiliki dan mengasihi sesama luntur sudah karena kita sering terjebak pada berbagai kompetisi dan perlombaan yang katanya mencerdaskan anak bangsa. Bahwa kalau sudah juara itu wujud kita ini mengharumkan nama bangsa. Bukankah itu salah kaprah?
Makna pendidikan kadang tak mendapat perhatian anak-anak didik di sekolah. Peserta didik lebih sering mengerti bahwa pendidikan adalah sekolah dan bersekolah adalah mencatat rumus, kata-kata, dan menghafal isi buku. Mengapa itu terjadi? Karena anak tidak didik dengan hati, anak-anak hanya dipandang seperti gelas kosong yang dituangi air atau apa saja yang bisa masuk kedalamnya. Anak-anak sejak dini perlu diajak berdiskusi tentang makna pendidikan minimal bagi diri sendiri. Bertukar gagasan tentang tujuan mereka bersekolah, untuk apa ilmu-ilmu itu, dan bagaimana menerapkan ilmu itu untuk diri mereka dan orang banyak, serta berbagai problem dalam menghayati hidup ini.
Ayo para guru kita berbenah, nasib bangsa ini sangat ditentukan oleh pendidikan yang bermartabat! Bukan sekadar rangkaian kata-kata lucu yang mengocok perut di dalam kelas-kelas sekolah. Artikel ini tidak bermaksud menghakimi para guru, tidak selalu bicara benar dan salah, namun berbicara apa yang sesungguhnya terjadi, supaya kita memperbaiki diri. Bagi para peserta didik dan anak-anak yang bisa mencerna gagasan ini, ayo belajar untuk hidup, belajar memberi dengan hati.

Selamat Hari Guru, jadilah terpuji selalu!

* guru SMA Negeri 1 Toroh, Kab. Grobogan Jawa Tengah

Kamis, Oktober 11, 2018

MEMAKNAI SUMPAH PEMUDA


Sembilah puluh tahun silam, pemuda-pemudi Indonesia membacakan ikrar Sumpah Pemuda, yang menjadi semangat berdirinya negara Indonesia. Kini sumpah pemuda jadi agenda tahunan. Ada yang sekadar upacara bendera, hingga diisi beragam lomba, selebrasi dan pekik semangat di seantero bangsa.


Tahun ini pun nampaknya tak jauh beda. Hanya boleh dibilang ada aneka peristiwa yang menyedot massa. Melibatkan kumpulan manusia, dengan ekspresi harap harap cemas. Adapula yang ramai dengan tangis tak kunjung reda. Namun sebagian lainnya dalam jumlah lebih besar, lebih sibuk dengan hiruk pikuk persiapan pemilu yang mulai memanas. Kesemuanya memantik sensitifitas pribadi, keduanya ada kebersamaan, namun adapula persaingan.

Senin, September 24, 2018

HASIL KURIKULUM PRAGMATIS

-->oleh Widodo*
Sudah agak lama tak mendengar keramaian kabar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sekarang sudah berjalan sekitar 3 tahun, hasilnya mulai tampak dan panen dimana-mana. Kalau dulu KTSP diplesetkan dengan Kurikulum Tidak Siap Pakai, itu sudah usang, kini KTSP menjadi Kurikulum Tukang dan Senyum Palsu. Sikap skeptis ini cukup beralasan, puncak implementasi kurikulum adalah keberhasilan belajar dan keberhasilan pendidikan, KTSP tetap saja mengantarkan anak berhasil lulus ujian nasional, sayangnya perubahan perilaku peserta didik itulah yang belum signifikan terwujud. Inilah hasil yang paling kentara dari kurikulum pragmatis.
Memerhatikan perkembangan dunia ketenagakerjaan, kebutuhan tenaga kerja terdidik dan terlatih sudah pasti. Kuliah yang pragmatis -dalam arti sempit- memang bukan untuk mewujudkan insan yang berperan sebagai ilmuwan atau akademisi, sekolah dan kuliah mencetak calon tenaga kerja. Katanya, sekolah untuk mendapat kerja, dengan kerja akan mendapat uang, dengan uang kita bisa bertahan hidup, senang-senang, dan macam-macamlah, sudah itu habis perkara.
KTSP itu semangatnya sudah begitu adil, itu baru tataran teoretis. Praktiknya, berapa banyak isi kumpulan buku yang mesti dilahap untuk dihafal peserta didik, dan guru hanya menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) produksi percetakan sebagai instrumen penilaian hasil belajar. Nilai-nilai belajar dihargai dengan kuantitas, indeks prestasi tinggi juga kuantitas. Ini terjadi karena andil filsafat positivisme, semuanya harus ada terukur, dan itu berarti dilihat secara kuantitas.
Kalau benar ada perubahan (atau lebih tepatnya perbaikan), masih santer saja pakar pendidikan termasuk para praktisi dalam forum seminar dan diskusi di berbagai media masih mengecam bahwa pendidikan kita (Indonesia) tidak berkualitas dan selalu menyalahkan menterinya karena gonta-ganti kebijakan. Berapa banyak komentar muncul yang mengatakan indeks pembangunan sumber daya manusia kita masih rendah, dan kalah dari Vietnam. Rasa malu yang menjadi obrolan belaka.
Justru kritik yang jarang mengemuka ialah mempertanyakan berapa banyak anak yang berpendidikan tinggi namun sikap dan perilakunya tidak menujukkan perbaikan, bukankah ini kegagalan bersama, bukan hanya sekolah atau gurunya. Kurikulum pragmatis harus berpijak pada penekanan bahwa usai kita bersekolah, kita harus bekerja dan terus bekerja menghasilkan uang, itu sungguh naif. Bersekolah supaya kita menjadi tambah cerdas lahir dan batin, cari uang tetap dilakukan dan kesederhanaan hati adalah tujuan.
Guru kreatif bermunculan seiring dengan tuntutan profesi dan undang-undang, namun berapa banyak guru yang tidak peduli nasib anak didiknya, mereka akan kemana. Menyelesaikan materi pelajaran lalu tinggal nglanggang colong playu. Dengan begitu, masih adakah yang membutuhkan sekolah? Dalam hal ini ada benarnya kata Paulo Freire, “desschoolling”, tanpa sekolah, tidak perlu sekolah.
Jika sekolah demi pekerjaan setelah memperoleh gelar, lalu kita akan dapat uang, tentu tak perlu capek-capek bersekolah. Kita bisa berusaha wiraswasta. Kita jumpai para calon guru, tidak memiliki sense of educating, rasa mendidik. Ayo kita survey bersama bagaimana kuliah-kuliah di Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) berlangsung, iklim akademik yang dibangun bagi para calon guru. Ini seperti mata rantai yang bersambung, guru dilahirkan oleh campur tangan dosen, lalu bagaimana kurikulum pendidikan di LPTK?
LPTK juga terindikasi menjalankan kurikulum pragmatis -sempit-, LPTK bukan lagi lembaga pendidik calon guru, sekadar Lembaga Pencetak Guru. Hasilnya adalah guru-guru instan dan serba pragmatis, karena para mahasiswa juga berfilosofi bahwa mereka berkuliah untuk menjadi guru dan pengajar (sebagai profesi), bukan sebagai pendidik. Dalam konteks 4 kompetensi guru sesuai Undang-undang nomor 14 tentang Guru dan Dosen, materi kuliah yang ditekankan makin bergeser penguasaan kompetensi pedagogis menjadi sekadar usaha agar para mahasiswa menguasai kompetensi profesional/akademik. Mereka supaya hafal atau kompeten menguasai materi sesuai bidang ilmu yang ditekuni. Maka, calon guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) hanya akan menguasai isi pelajaran PKn namun tidak menguasai diri sebagai pembimbing anak, dan bukan model teladan warga negara yang baik.
Hal ini terjadi karena pembelajaran yang berlangsung mengesampingkan ilmu pedagogis, cara mendidik anak. Kompetensi pedagogis memberi andil besar bagi profesionalitas guru dan prestasi belajar anak. Kompetensi mendapat aksentuasi pada aspek penguasaan materi sebagai wujud “kegilaan” dalam pragmatisme sempit mendidik. Kita akan mencetak robot. Semangat olah rasa, olah raga, olah jiwa, dan olah pikir tinggal angan-angan. Generasi yang terbentuk via KTSP bisa jadi hanyalah generasi yang mau berbuat dan bisa mencipta, namun tidak halus budi (cipta dan karsa tanpa rasa). Generasi yang haus kuasa, dan profesi guru hanya menjadi rebutan karena sedang ada lowongan pekerjaan semata, betapa ironisnya.
Menempatkan tujuan kurikulum pragmatis sudah pasti terjadi, dalam bidang kurikulum dikenal juga istilah hidden curriculum (kurikulum tersembunyi), kurikulum yang tidak tertulis tapi bisa jadi berpengaruh 80% terhadap keberhasilan belajar. KTSP mesti sejalan dengan hidden curriculum, barulah kemaslahatan itu bisa teraih dan kemudharatan bisa dihindari. Lebih dari, langkah kongkritnya, jangan lagi isi jabatan Kepala Dinas Pendidikan dengan eks Kepala Dinas Pasar atau Kepala Dinas Kebakaran. Saran ini juga pragmatis dan terkesan agak kuno, pragmatis menuju kemanfaatan dalam kepentingan luas yang diawali dari perubahan di pemegang kebijakan pendidikan.

Rabu, Agustus 24, 2016

Khasiat Blimbing Wuluh




Mengkonsumsi buah belimbing wuluh baik menyembuhkan Gusi berdarah.   Dua buah belimbing wuluh segar maupun manisan secara rutin tiap hari   1/2 genggam dimakan tiap hari Blimbing Wuluh sebagai Obat Gondongan  daun belimbing wuluh ditumbuk dengan 3 bawang putih. Kompreskan pada bagian  10 ranting muda belimbing wuluh berikut daun gondongan.  

Selasa, Januari 22, 2013

ANALISIS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN VIRTUAL

Oleh : Widodo


Bicara kondisi kenyataan belajar-mengajar saat pada awalnya akan membicarakan perbandingan antara harapan dan realita. Proses belajar mengajar sangat berkaitan dengan kurikulum. Apalagi saat ini sudah berlaku kurikulum operasional di masing-msing sekolah yang dikenal kurikulum tingkat satuan pendidikan.

Adalah fakta bahwa saat ini ruang-ruang kelas belumlah merupakan lingkungan pembelajaran yang ideal. Di ruang kelas ini kiranya sangatlah sulit bagi guru dan siswa untuk senantiasa berfokus penuh pada tugasnya masing-masing. Guru, misalnya, hampir selalu kekurangan sumber: ruang, buku, peralatan, dan lebih penting lagi adalah waktu untuk memenuhi kebutuhan siswa yang berjumlah banyak. Guru masih terlalu mendominasi proses pembelajaran (teacher centered), belum child centered.

Salah satu yang pasti dari pelaksanaan pembelajaraan saat ini adalah digunakannya teknologi informais dan komunikasi secara lebih luas. Teknologi informais dan komunikasi ini digunakan sebagai media pembelajaran atau juga sebagai sumber belajar. Lazim kita kenal internet untuk kepentingan pembelajaran, sehingga guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar (demikian yang sering terjadi), atau hanya buku teks saja yang digunakan sebagai bahan pelajaran.

Saya pikir kondisi pembelajaran pada sekolah-sekolah (di Indonesia) saat ini dapat digambarkan antara Harapan dengan Realita berikut:

Harapan Belajar-Mengajar yang Ideal:
1.Bersifat individual (mempertimbangkan kecepatan siswa yang tidak sama)
2.Guru sebagai fasilitator dan siswa sebagai subjek pendidikan
3.Pembelajaran dilakukan di dalam dan di luar kelas
4.Metode mengajar bervariasi, pola PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) digalakkan terkait contextual teaching learning
5.Pembelajaran berdasar pada kompetensi dasar yang harus di capai. Ada program remedial dan pengayaan
6.Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan pembelajaran berkualitas
7.Ujian menggunakan berbagai teknik (performance test, objective test, dll) dan metode penilaian portofolio

Realita di Lapangan (masih terjadi)
1.Pola klasikal dengan tujuan menguasai materi pelajaran masih dominan terjadi daripada kemandirian belajar
2.Tidak semua guru telah berperan sebagai fasilitator belajar, masih sering ditemukan bahwa guru sebagai pusat pembelajaran
3.Masih dominannya pembelajaran yang cenderung dilakukan di kelas saja, siswa jarang diajak.
4. Metode mengajar cenderung kurang bervariasi, masih dominannya pengajaran kovensional yaitu ceramah (meski kita akui ceramah cukup efektif untuk karakteristik belajar tertentu)memanfaatkan lingkungan luar kelas
5.Masih dominannya pembelajaran mengejar target penyampaian materi, yang penting materi pelajaran selesai diberikan. Pengayaan diberikan terutama bagi siswa yang akan mengikuti ujian nasional
6.Sudah mulai digalakkannya pemanfaatan TIK untuk mendukung pembelajaran, meskipun belum optimal. Berkembangnya sumber belajar selain guru, seperti e-book, e-library, dsb.
7.Pada awal KTSP dikenalkan teknik (performance test, objective test, dll) dan metode penilaian portofolio, tetapi setelah beberapa waktu KTSP berjalan, guru lebih sering kembali pada pola evaluasi/ujian menggunakan teknik paper and pencil test
(catatan: tidak semua kondisi persekolahan seperti itu, tidak dapat digeneralisasi mutlak)

Pada tahun 2007 begitu mengemuka suatu program Depdiknas dalam bidang pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, yaitu dengan lahirnya Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas). Jardiknas ini memfasilitasi pertukaran informasi, dan bank data tentang informasi pendidikan di Indonesia, termasuk informasi kelembagaan pendidikan. Apa yang dikenal sekarang sebagai e-learning dan system pengelolaan pembelajaran-belajar begitu menjamur dan berkembang.
Dari hal itu, saya tidak dapat membantah bahwa saat ini teknologi informasi dan komunikasi telah kemajuan pesat. Kemajuan ini terlihat dari upaya mengembangan dan inovasi terhadap produk maupun proses pemanfaatannya sehingga TIK menjadi trend setter. Institusi pendidikan hingga keluarga semkain tak asing lagi dengan pemanfaatan TIK modern dan canggih. Laptop, LCD projector, sampai dengan pemanfaatan internet untuk pembelajaran bukan hal asing lagi.


Dampak Nyata Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhadap Paradigma Pembelajaran

Dampak kemajuan Teknologi informasi dan Komunikasi tersebut terhadap perubahan paradigma pembelajaran dewasa ini, diantaranya adalah:
1.Model pembelajaran campuran yang baru mulai muncul. Pembelajaran tatap muka dan aktivitas belajar online, video, multimedia dan sarana telekomunikasi menunjang berbagai proses pembelajaran, kadangkala dalam bentuk kombinasi dan kadangkala dalam bentuk yang lebih terintegrasi.
2.Pendidikan jarak jauh sekarang disajikan dalam dua cara yaitu synchronous mode di mana peserta menggunakan TIK untuk berkomunikasi pada waktu yang bersamaan dan asynchronous mode di mana para peserta belajar secara mandiri pada waktu yang berbeda kapan saja mereka online (anytime-anywhere learning). Dalam kenyataannya pertemuan tatap muka atau interaksi (synchronous) masih diperlukan untuk menunjang belajar mandiri dan asynchronous agar belajar dapat lebih efektif. TIK memfasilitasi interaksi tingkat tinggi antara siswa, guru, dan materi pembelajaran berbasis komputer. Komunikasi dapat dinamis dan bervariasi sesuai keinginan siswa dan guru, dan ia dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti e-mail, mailing list, chating, bulletin board, dan teleconference.
3.Kelas online cenderung untuk menjadi lebih sukses jika TIK dikombinasikan dengan suatu ilmu pendidikan yang tepat. Kancah pendidikan dari pembelajaran online masih sangat muda. Saat banyak institusi yang menawarkan kursus online, pemahaman mendalam tentang isu pedagogis yang berhubungan dengan pendidikan online masih belum diselidiki secara mendalam. Banyak kursus online yang hanya halaman web dikombinasikan dengan e-mail dan ruangan chatting tanpa landasan pedagogis. Pengalaman-pengalaman sukses menunjukkan bahwa telah ada suatu penurunan dari aktivitas dipandu guru seperti halnya penurunan jumlah pembelajaran tatap muka dan bergerak ke arah aktivitas yang berbentuk proyek dan belajar mandiri.
4.Corak interaktif sumber belajar memungkinkan siswa untuk terus meningkatkan keterlibatannya dengan pengembangan isi dan dengan demikian berperan dalam suatu situasi belajar yang lebih otentik. Sebagai contoh, para siswa dapat mengakses perpustakaan maya di seluruh dunia. Dengan demikian mereka mempunyai akses ke sejumlah besar informasi dan sumber belajar yang luas yang tidak dapat dicapai dalam seting pembelajaran yang tunggal. Sejauh yang terkait dengan guru, sejumlah besar sumber belajar yang diletakkan di Internet telah membantu guru dalam menghadapi tantangan mengajar sehari-hari. Para guru dapat saling betukar rencangan pembelajaran, teknik pedagogis, dan strategi yang berhubungan dengan isu-isu dan permasalahan umum.
5.TIK membantu memecahkan isolasi profesional yang banyak diderita para guru. Dengan TIK, mereka dapat dengan mudah berhubungan dengan para profesional lain, rekan kerja, penasihat, universitas dan pusat keahlian, dan dengan sumber belajar. Para guru kini menerbitkan bahan belajar yang mereka kembangkan di Internet dan berbagi pengalaman mengajar mereka dengan guru lainnya.


Dampak kemajuan TIK yang paling jelas adalah pola pembelajaran tidak semata didasarkan kepada interaksi guru kelas dengan murid, melainkan ada guru media yang berinteraksi dengan murid melalui media. Peranan guru akan mengalami perubahan. Guru kelas tidak lagi memegang kendali penuh di dalam kelasnya. Mereka tidak lagi menjadi penyaji pelajaran, tidak membuat bahan dan tidak menentukan nilai kemajuan belajar anak, melainkan tetap di tuntut untuk memberikan bimbingan anak untuk belajar (fasilitator dan motivator).


Mutu Pembelajaran Ketika Teknologi Informasi dan Komunikasi Digunakan sebagai Alat
Lebih jauh lagi, guru yang menggunakan TIK dalam pembelajarannya hendaknya tidak hanya menyadari tentang seberapa baik ia percaya atas materi pembelajarannya tetapi juga percaya atas kemampuan dasar TIK yang (hanya) sebagai alat bantu. Sekali lagi perlu saya tegaskan, bahwa TIK tidak akan mamapu menggantikan peran guru sepenuhnya, apalagi menyangkut peran pedagogis-psikologis. Meskipun dengan adanya TIK, ruang-ruang kelas dengan dinamika sosial pembelajaran yang demikian dapat direkonstruksi menjadi lingkungan pembelajaran yang mendukung belajar bermutu.
Untuk dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam meningkatkan atau memperbaiki mutu pembelajaran, maka ada 3 (tiga) hal yang harus diwujudkan, yaitu:
1.Siswa dan guru harus memiliki akses ke teknologi informasi dan komunikasi digital dan internet di dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru.
2.Harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural siswa dan guru, dan
3.Guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik.

Bentuk Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi di dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran
Aplikasi teknologi informasi dan komunikasi di dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran tampak nyata dengan kehadiran E-Education, istilah ini mungkin masih asing bagi bangsa Indonesia, apalagi Departemen Pendidikan Nasional terlihat gencar mengupayakannya baru pada awal tahun 2007 dengan kelahiran Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas). E-education sebagai istilah penggunaan IT di bidang Pendidikan.

Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi sementara “miskin” masalah. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses Digital Library yang pusatnya di Inggris, Australia, AS, Belanda, dan Negara lainnya, tanpa harus ke sana. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet.

Pola pelaksanaan pembelajaran di lingkungan belajar virtual yang sudah berjalan di Indonesia adalah (1) Pembelajaran Multimedia Interaktif; (2) Pendidikan dengan Modus Belajar Jarak Jauh (Distance Learning); (3) Pembelajaran dengan Modul Digital; (4) E-Learning; dan (5) Televisi dan radio-edukasi dengan Program Edukasi (tv-edukasi), program ini telah dirintis oleh Depdiknas bekerjasama dengan TVRI, TV-edukasi dan TV-Ku (Semarang).

Kondisi Indonesia dalam konteks lingkungan belajar virtual
Apakah Indonesia mampu memanfaatkan dan mengembangkan virtual learning environmental?
Saya sangat yakin kita mampu, namun harus realistis bahwa perencanaan, pengadaan, dan pendayagunaannya tidaklah mudah. Ada beberapa kondisi nyata yang patut dicermati, yaitu:

1)Infrastruktur listrik dan telepon belum bisa dinikmati seluruh masyarakat. Hal ini karena pemerintah belum memeratakan pembangunan, ada kawasan-kawasan wilayah di negeri ini yang belum tersentuh secara adil. Dari sisi masyarakat, kita tidak bisa memungkiri bahwa sebagian dari masyarakat kita untuk makan saja susah, bagaimana akan bisa mengadakan sarana teknologi canggih? Mungkin fasilitas computer makin menggejala kepemilikannya, namun untuk pemasangan jaringan internet masih cukup mahal. Dari sisi pengadaan, diperlukan modal awal yang relatif mahal untuk komputer multimedia dan jaringan internet yang memungkinkan para penguna bisa diskusi (chating dan surving).

2)Belum semua guru mampu mendayagunakan internet, bahkan computer. Sehingga bagaimana mungkin dapat mengembangkan pembelajaran berbasis virtual internet. Oleh karena itu perlu pelatihan berkelanjutan. Belum lagi soal, adanya “penyakit” guru, yaitu tidak mau menerima perubahan. Banyak guru yang sudah cukup puas dengan penggunaan media pembelajaran seadanya di sekolah serta metode belajar monoton. Sebagai hal yang cukup baru (di Indonesia) notabene pengajar masih kurang familiar, sehingga dirasa lebih merepotkan dan mendorong mereka kembali ke cara konvensional (buku teks).

3)Untuk materi yang memiliki muatan nilai-nilai moral fundamental, e-learning masih kalah dengan kehadiran guru yang sekaligus menjadi teladan atas nilai moral yang diajarkan

Pemanfaatan Internet apalagi untuk pendidikan di Indonesia masih seumur jagung. Sebenarnya pemanfatan Internet untuk e-Learning di Indonesia dapat ditingkatkan kalau fasilitas yang mendukungnya memadai, baik fasilitas yang berupa infrastruktur maupun fasilitas yang bersifat kebijakan.

Namun harus juga diakui bahwa ketersediaan telepon dan listrik di daerah-daerah tertentu di Indonesia memang masih terbatas dan karenanya menghambat bertambahnya pengguna Internet. Bahkan ada saudara-saudara kita yang belum menikmati insfrastruktur dasar seperti listrik dan jalan, Lha wong bagi yang sudah menikmati adanya listrik saja masih sering mengalami adanya listrik byar-pet (atau pemadaman bergilir).

Belum lagi tentang belum tersosialisasinya aturan/hukum dunia maya (cyberlaws) kepada masyarakat luas, sehingga hal ini juga menghambat bertambahnya investor dibidang IT Internet ini.
Kini pemerintah telah berupaya untuk memanfaatkan dan memaksimumkan tersedianya informasi teknologi dengan membentuk Kantor Menteri Negara Informasi dan Teknologi. Di tiap Departemen bahkan ada unit yang menangani teknologi informasi ini. Di Depdiknas misalnya ada Pustekkom atau Pusat Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan; di tiap Universitas ada Pusat Komputer, dan masih banyak contoh yang lain.

Perlu kita camkan, bahwa ketika pendidik meminta dengan tegas atas penggunaan TIK hanya sebagai pengganti praktek pembelajaran yang ada, mereka tidak dapat berperan untuk memecahkan permasalahan di bidang pendidikan yang saat ini mereka temui!

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!