Selasa, November 03, 2009

If Tomorrow Never Comes




oleh ka'widodo

Jika besok tak pernah datang, begitulah kira-kira artinya. Pagi ini judul yang sama sebagai lagu yang dilantunkan Ronan Keating diudarakan radio Sonora semarang. Maka saya berandai-andai, memprediksi diri. Menjadi ingat pula “bekerjalah dengan tekun seolah-olah umurmu 1000 tahun lagi, dan beribadahlah seolah-olah engkau akan mati esok”. Mencoba dipikir lagi, hari ini perlu melakukan banyak. Ada banyak janji yang belum tertunaikan, ada segunung rindu yang belum terobati, ada setinggi langit mimpi yang belum nyata, setumpuk utang di warung yang belum tersahurkan.

Begitu pendek umur ini, yang kita tak tahu hingga kapan bisa menikmati semerbak bunga di taman, padi menguning di sawah Bapak. Jika tomorrow never comes, berarti hari ini adalah hari tersibuk di dunia. Mesti menyelesaikan semampu dan sekuat diri ini. Jika di HP ini ada 387 nomor telepon, semua nomor ini dihubungi untuk setidak-tidaknya mengatakan “maafkan saya, doakan saya!”

Jika ibu telah menahan kesenangannya selama 9 bulan lebih demi buah hatimu ini, bagaimana caranya supaya hari ibu bisa disenangkan, meski mustahil dapat mengembalikan pengorbanan yang dilakukannya. Jika hingga hari ini, Bapak telah menghabiskan 1 miliar rupiah untuk mencukupi kesenangan diri ini, maka bagaimana membalasnya hanya dalam 1 hari.

If tomorrow never comes, harini ini mesti mengabari orang-orang special untuk sekadar berpamitan, dan mungkin berlama-lama sedikit membabarkan keluh kesah. Menjadi ingat bahwa diriku tak pernah mengatakan “aku sayang padamu”.


Mungkin hari ini akan menjadi penyelasalan yang panjang, mengapa dulu tidak begini dan mengapa tidak begitu? If tomorrow never comes, hari-hari kemarin cemas, gelisah, dan sedih masih bisa ditutupi dengan senyum di bibir, maka hari ini akan menjadi masa harap-harap cemas yang tak bisa ditutupi.

If tomorrow never comes, saya mesti pasrah pada Illahi.

If tomorrow never comes, saya ingin khusnul khotimah.
Not tomorrow never die.
.

Senin, Oktober 26, 2009

RASA ITU HANYA DI LIDAH

Oleh Kang Wid/Smg 7-6’09

Bulan ini memang bukan Bulan Ramadhan. Obrolan soal makan, mengisi perut, dan apalagi memenuhi hasrat nafsu bawah perut tiada habisnya.

Kalau sedang makan, adakalanya saya jadi ingat dan berpikir “buat apa makan?”. Kata banyak orang, makan itu untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Sebagian orang menganggap makan itu sebagai pemenuhan hajat perut. Makan sebagai penyambung hidup.

Bukankah rasa enak makanan itu hanya sampai mulut atau kecapan lidah saja. Setelah melewati kerongkongan, sudah tak ada rasa manis, asin, pedas, atau asem kecuali rasa yang tertinggal di lidah. Kerongkongan, lambung, usus, pankreas, dan anus tak ikut merasakan rasa-rasa itu. Namun organ-organ pencernaan itu ikut memproses, dan turut merasakan dampaknya. Kata orang, kalau perut sedang sangat lapar, lambung jadi sensitif terhadap rasa asem, maka jika langsung diisi yang asem-asem bisa melilit atau bisa juga kena maag.

Belum lagi kalau makan nasi plus pecel yang pedas. Kata saya, “enak di depan tak enak di belakang”, maksudnya meski ada rasa peda ketka makan pecel, kita tetap lahap menikmati, namun giliran di pembuangan alias BAB (buang air besar), wah rasanya sering panas pedes di situ…hehe. Tetapi, itulah manusia, “kapok sambel” (meski kapok, tapi giliran lagi kepengin, ya makan lagi).

Adakalanya, kalau ingat bahwa rasa makanan itu hanya di lidah, nafsu makan saya turun. Berikutnya, makan dirasa untuk mengenyangkan atawa nggo ngganjel weteng saja. Mereka yang terbiasa menahan lapar, saya yakin akan lebih sabar menghadapi situasi ketika sedang lapar tapi makanan belum ada. Lain lagi kalau terbiasa sarapan, apalagi yang jam makannya begitu teratur dan menunya terdaftar seperti rapinya kalender. Mereka ini ketika sedang lapar sedikit saja sudah mengaduh sampai gaduh, mengomel tak karuan.

Saya senang menjadi bagian dari orang-orang yang tidak mendahulukan makan, yang berusaha prihatin dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan. Memasak sayur dan nasi bukan monopoli kaum hawa, saya mesti belajar memasak, belajar bagaimana ibu saya memasak. Demi apa? Saya tidak ingin terlalu berandai-andai, ya barangkali kalau suatu ketika istri saya sedang pergi, saya bisa menyediakan hidangan makanan buat keluarga. Pengalaman memasak saat lomba tingkat (LT III) jaman pramuka penggalang di Wonogiri dulu masih teringat benar. Meski saya tak ahli dalam hal Tekpram, memasak buat teman-teman seregu membekas menjadi kesan yang begitu mendalam.

Ada beberapa prinsip yang saya ingat, “dudu tutuk sing marani sego, tapi sego sing marani tutuk” (intinya, kita jangan nyosor seperti makannya binatang…hehe). Ada makanan sedikit disyukuri, ada banyak “ojo ngujo nepsu!” (jangan menuruti nafsu), jangan aji mumpung! Kalau tak senang dengan menunya, ya ditinggal saja, tak perlu diumpat-umpat. Menghargai makanan adalah wujud syukur kepada Alloh, itu yang saya yakini.

Menjadi pramuka tak perlu sambat (mengeluh) kalau sedang lapar. Ayo memasak!

Rabu, September 23, 2009

Selaksa Asa

Karya: Sandra Noryz

Waktu semalam nun jauh
logika menculikku ke sebuah kontemplasi
lesap dalam dianyar alam sababya
aku, segenggam tahi dalam sajadah
panjang bima sakti
coba berlari…
terus meraih esensi
menghempas aku membelai mimpi
ah…!!!
ternyata langit kelewat luas
sementara…
mamalia mana yang tak ingin bumi
berputar dengan sempurna?
cahaya terik menyilauku
tak sengaja aku hidup kembali
berpeluh mematut diri
.

Kamis, September 17, 2009

MAAFKAN...!

bismillah
kita mungkin jarang berjumpa
adakalanya berbagi via sms, facebook, bertemu, dan mungkin lintas hati
maka, tutur manis kadang tak berisi kebenaran
perbuatan santun, kadang bukan bukti kasunyatan
kadang niat, tak sama dengan pengucapan dan perbuatan
ini momentum yang tepat untuk membersihkan diri, menyucikan hati
mohon maafkan segala kesalahan saya, maafkan, dan maafkan
sebelum itu saya telah memaafkan Anda, Panjenengan semua...
alhamdulillah

Kamis, September 03, 2009

GAMBAR SEJUTA MAKNA

Gambar Sejuta Makna

Aku bilang malam, iya.

Langitpun muram!

Tanpa bintang dan hanya awan,

rembulan tak mau hiraukan gerutu angin mempermainkan dedaunan!

Tiada yang mau menjawab, mungkin karena diam??

Diam.

Tidur?bisu?tuli? atau memang tak mengerti? Ahh.

Bosan, alasan tanpa pendirian!

Sebuah prinsipil yang tak jauh,

Bahkan Nampak mesra dengan idealis!

Berdiri menjunjung humanis, tapi sayang serentak membangkang tameng alang-alang!

Sinestesis berdualis dengan ironi.

Jangan anggap mimpi!

Walau saat kau tersadar.

Tetap lelap tertidur?? Nanti. (Sandra noryz, 21/6 2009. 21:19:04 WIB malam)


LESAP aku-Mu (lesap:hilang dengan sengaja)

Sejak kapan aku menjadi tuhan,

Makin liar kurampas dan kucaci semua

Aku dan keakuanku semakin aku tau aku,

Semakin aku menjadi jadi

Aku lepas keakuanku

Semakin aku menjadi tuhan_.......biar 2.



(Sabtu, 11 Juli 2009/Sandra N/18:47:09WIB/Wngri)

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!